Mengapa Sanksi Barat Tidak Melemahkan Pengembangan Teknologi Militer Rusia?

Minggu, 30 Juli 2023 - 23:40 WIB
loading...
Mengapa Sanksi Barat...
Industri pertahanan Rusia tetap tangguh meskipun sanksi ekonomi Barat terus digulirkan. Foto/Sputnik
A A A
MOSKOW - Beberapa bulan ke depan akan melihat kapal perang yang lebih canggih diserahkan kepada Angkatan Laut Rusia . Itu sebagai bukti bahwa industri pertahanan Rusia terus mengembangkan berbagai peralatan dan teknologi militernya. Padahal, Rusia masih menghadapi sanksi ekonomi dari Barat.

Kekuatan militer Rusia itu dipamerkan pada parade Hari Angkatan Laut Rusia, yang akan dihadiri oleh Presiden Vladimir Putin, pada 30 Juli 2023. Lebih dari 40 kapal, perahu dan kapal selam, serta 42 pesawat terbang dan lebih dari 3.500 prajurit diharapkan ambil bagian dalam parade, dalam pertunjukan tradisional kekuatan angkatan laut Rusia.

"Kekuatan ini hampir pasti akan ditingkatkan lebih lanjut karena Angkatan Laut Rusia akan menerima lebih banyak kapal perang sebelum akhir tahun ini," kata pakar militer yang berbasis di Moskow, Vasily Dandykin kepada Sputnik.

Baca Juga: 6 Strategi Ukraina Memukul Mundur Tentara Rusia

“Meskipun operasi militer khusus Rusia sedang berlangsung di, puluhan kapal baru yang berbeda akan memasuki layanan di Armada Utara, Pasifik, Laut Hitam dan Baltik Rusia, termasuk kapal rudal kecil Zircon dan fregat Laksamana Golovko," kata Dandykin.

Adapun armada kapal selam negara itu, Dandykinmenambahkan, khususnya akan mendapatkan kapal selam strategis bertenaga nuklir Alexander III generasi keempat, yang dirancang untuk memperkuat pengaruh Angkatan Laut Rusia di Samudra Pasifik.

“Ini sangat penting, karena [kapal selam bertenaga nuklir] adalah bagian dari triad nuklir Rusia,” kata Dandykin. Dia menambahkan bahwa negara tersebut mulai mengembangkan kapal selam generasi keempat “lebih awal dari Amerika.”

Selain itu, kapal yang bergabung dengan Angkatan Laut Rusia akan menjadi kapal selam diesel, kapal penyapu ranjau dan kapal pendarat besar, yang akan dipamerkan pada parade Hari Angkatan Laut mendatang.

Ketika ditanya tentang persenjataan angkatan laut Rusia yang unik – sesuatu yang saat ini tidak dimiliki negara-negara Barat? Dandykin menyebutkan kapal selam bertenaga nuklir kelas Borei generasi keempat yang dilengkapi dengan drone strategis Poseidon.

"Daftar tersebut juga mencakup kapal selam serba guna Yasen M yang dilengkapi dengan rudal hipersonik, korvet rudal kecil kelas Karakurt, dan kapal patroli militer," ujar Dandykin.

Baca Juga: 5 Senjata Paling Mematikan Buatan Barat yang Digunakan Ukraina Melawan Rusia

Selain itu, ada kapal pemecah es militer seperti Muromets dan Yevpaty Kolovrat merupakan bagian dari Armada Kutub Rusia yang unik.

Dandykin menekankan perlunya membangun lebih banyak kapal permukaan dan kapal selam serta kendaraan udara tak berawak (UAV), yang “dapat melakukan tugas demi kepentingan Angkatan Laut Rusia.”

“Selama setahun terakhir, kami telah membuat kemajuan besar dalam menciptakan UAV, seperti drone Lantset. Pengembangan UAV lain sedang berlangsung, dengan drone Okhotnik akan segera diluncurkan. Okhotnik, yang bekerja bersama-sama dengan jet tempur generasi kelima, mampu menjalankan misi tempurnya sendiri,” kata Dandykin.

Sementara itu, konsultan internasional Earl Rasmussen, seorang pensiunan letnan kolonel Angkatan Darat AS, yang menunjuk pada “kehadiran kapal selam yang kuat” di Angkatan Laut Rusia, yang menurut pakar dianggap sebagai yang terkuat ketiga di dunia setelah AS dan China.

"Selain dari peningkatan kapal Rusia, perkembangan sedang dilakukan untuk memodernisasi enam kelas kapal selam yang berbeda dengan kemampuan unik,” ujar Rasmussen. Dia menggarisbawahi bahwa sejauh menyangkut modernisasi, sanksi anti-Rusia Barat “berdampak kecil” pada proses tersebut.

“Rusia telah mengambil langkah-langkah untuk memindahkan pembuatan senjata dan keamanan pertahanan berdasarkan kemampuan internal/domestik. Kepala United Shipbuilding Corporation, Alexei Rakhmanov, menyatakan bahwa efek sanksi terhadap industri pembuatan kapal Rusia praktis tidak terlalu mencolok, dengan hanya 5% komponen untuk pembuatan kapal militer (terutama elektronik) yang bergantung pada impor asing,” kata Rasmussen.

Ketika ditanya secara terpisah tentang implikasi geopolitik dari kerja sama angkatan laut yang berkembang antara Rusia, China dan Iran? Mantan letnan kolonel Angkatan Darat AS itu memperingatkan para pemimpin Barat agar tidak bersikap konfrontatif.

“Para pemimpin Barat, yang dipimpin oleh AS, harus mencari pemahaman bersama dan kerja sama secara global, [namun] sayangnya, mereka menciptakan perpecahan secara global dan memperkuat mereka yang dianggap musuh," tutur Rasmussen.

Rasmussen mengungkapkan, kebijakan arogan dan hegemonik seperti itu tidak bijaksana dan menetapkan arah yang sangat berbahaya bagi Barat dan dunia. "Di bagian paling timur, kita bisa melihat dunia yang terfragmentasi dan paling buruk, konflik global yang dapat dengan mudah meningkat,” ujarnya.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia Balas Dendam!...
Rusia Balas Dendam! Rudal dan Drone Gempur Ukraina, 11 Orang Tewas
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
1.000 Taruna Akmil Bakal...
1.000 Taruna Akmil Bakal Latih Siswa Sekolah Rakyat, Usman Hamid: Ruang Kelas Harus Bebas dari Intervensi Militer
Gagal 3 Kali, Keiko...
Gagal 3 Kali, Keiko Fujimori Akhirnya Menang Pilpres Peru
Detik-Detik Truk yang...
Detik-Detik Truk yang Dikemudikan Bocah 11 Tahun Tabrak Rombongan Biksu, 8 Tewas!
Rekomendasi
UEFA Tolak Aturan Kartu...
UEFA Tolak Aturan Kartu Merah Pemain Tutup Mulut
Tak Lagi Sekadar Hiburan,...
Tak Lagi Sekadar Hiburan, Industri Entertainment Kini Jadi Ladang Investasi Baru
PLN EPI Dorong Bioenergi...
PLN EPI Dorong Bioenergi Jadi Motor Diversifikasi Energi Nasional
Berita Terkini
PBB Perkirakan Pembersihan...
PBB Perkirakan Pembersihan Puing-puing Gaza Perlu Waktu Lebih dari 140 Tahun
Iran Tegaskan Inspektur...
Iran Tegaskan Inspektur IAEA Tak akan Diberi Akses Apa pun ke Lokasi Nuklir yang Dibom
Pemerintah Suriah Terbuka...
Pemerintah Suriah Terbuka untuk Bertemu Hizbullah
PM Pakistan Sharif akan...
PM Pakistan Sharif akan Hadiri Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei
CIA akan Rilis Berkas...
CIA akan Rilis Berkas Baru Program Pengendalian Pikiran Terkait Nazi
Israel Ngotot Tempatkan...
Israel Ngotot Tempatkan Pasukannya di Lebanon, Suriah, dan Gaza Tanpa Batas Waktu
Infografis
Menhan Australia Telepon...
Menhan Australia Telepon Menteri Sjafrie Terkait Rumor Pangkalan Militer Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved