5 Alasan Kenapa AS Bersikeras Mengirim Bom Cluster ke Ukraina

Selasa, 11 Juli 2023 - 14:36 WIB
loading...
A A A
Kelompok hak asasi manusia menggambarkan bom cluster sebagai "menjijikkan" dan bahkan kejahatan perang.

3. Bukan Bom Baru bagi Ukraina dan Rusia

Baik Rusia maupun Ukraina telah menggunakan bom cluster sejak dimulainya invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022.

Tidak ada yang menandatangani perjanjian yang melarang mereka. AS juga tidak, tetapi sebelumnya telah mengkritik penggunaan senjata Rusia secara ekstensif.

Bom cluster bagi Rusia dilaporkan memiliki "tingkat tak berguna" sebesar 40%, yang berarti jumlah besar tetap menjadi bahaya di darat, sedangkan tingkat tak berguna rata-rata diyakini mendekati 20%.

Pentagon memperkirakan bom clusternya sendiri memiliki tingkat tak berguna kurang dari 3%.

4. Kehabisan Bom

Pasukan Ukraina sudah kehabisan peluru artileri, terutama karena, seperti Rusia, mereka menggunakannya dengan kecepatan yang luar biasa tinggi dan sekutu Barat Ukraina tidak dapat menggantinya dengan kecepatan yang mereka butuhkan.

Di medan perang Ukraina selatan dan timur yang sebagian besar statis dan bergemuruh, artileri telah menjadi senjata utama.

Orang-orang Ukraina sekarang menghadapi tugas yang menakutkan dalam mencoba mengusir Rusia yang menyerang dari posisi pertahanan mereka yang tergali dengan baik yang membentang di sepanjang garis depan pertempuran sepanjang 1.000 km (621 mil).

Dengan tidak adanya peluru artileri yang cukup, Ukraina telah meminta AS untuk mengisi kembali persediaan bom clusternya untuk menargetkan infanteri Rusia yang menjaga semua parit pertahanan itu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
Trump akan Bicara dengan...
Trump akan Bicara dengan Hizbullah jika Presiden Lebanon Mau
Menlu Rubio Ungkap AS...
Menlu Rubio Ungkap AS Masih Bersedia Negosiasi dengan Iran
RUU Integrasi Militer...
RUU Integrasi Militer AS-Israel Dianggap Ancaman Eksistensial, Anggota Kongres Diseru Menolak
Trump Setujui Kesepakatan...
Trump Setujui Kesepakatan Nuklir Arab Saudi yang Memungkinkan Pengayaan Uranium
Trump Ingin Terus Serang...
Trump Ingin Terus Serang Iran dari Pangkalan Militer Inggris
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
Koalisi Militer Islam...
Koalisi Militer Islam Gandeng PBB Latih Palestina dan Chad Perangi Pendanaan Terorisme
AS Habiskan Rp671 Triliun...
AS Habiskan Rp671 Triliun untuk Perang Lawan Iran, Minta Tambahan Anggaran Lagi
Rekomendasi
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
Apresiasi Penunjukan...
Apresiasi Penunjukan Sudaryono sebagai Kepala BGN, Amos Simanjuntak: Pilihan Tepat
Dirjen Imigrasi Sebut...
Dirjen Imigrasi Sebut Pencekalan Febrie Adriansyah Masih Berlaku
Berita Terkini
Gunakan Semut Jadi Hiasan...
Gunakan Semut Jadi Hiasan Makanan, Pemilik Restoran Berbintang Michelin Ini Dipenjara
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
Anggaran Perang AS Membengkak,...
Anggaran Perang AS Membengkak, Pakar Militer Ini Sebut Pentagon Kurang Transparan
Sistem Pertahanan Udara...
Sistem Pertahanan Udara Sudah Diaktifkan, tapi Belum Ada Serangan AS ke Teheran
CIA Akui Agresi AS ke...
CIA Akui Agresi AS ke Iran Gagal Total, Ini 4 Indikatornya
Terowongan Runtuh Akibat...
Terowongan Runtuh Akibat Ledakan Pipa Gas di India, 12 Orang Tewas
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved