Punya Anak, Perusahaan China Akan Bayar Karyawannya Rp2 Triliun
Sabtu, 01 Juli 2023 - 13:16 WIB
loading...
A
A
A
"Melahirkan anak pertama atau kedua akan menghasilkan pembayaran masing-masing 30.000 yuan (Rp62,2 juta) dan 60.000 yuan (Rp124,4 juta)," kata laporan itu.
Bulan lalu, QiaoYin City Management, sebuah perusahaan layanan sanitasi perkotaan, mengumumkan akan menawarkan bonus 100.000 yuan (Rp207 juta) kepada karyawan yang melahirkan anak ketiga. Langkah itu bertujuan untuk mengurangi beban keuangan keluarga karyawan muda dan menanggapi seruan pemerintah untuk mendorong kelahiran, kata perusahaan itu.
Tingkat kelahiran yang menurun bukan satu-satunya kekhawatiran bagi Beijing. Lebih sedikit orang di China juga menikah, yang bisa menambah masalah.
Sekitar 6,83 juta pasangan menikah pada 2022, menurut data yang dirilis Kementerian Urusan Sipil China awal bulan ini. Jumlah itu turun sekitar 10,5% dari 7,63 juta pernikahan yang terdaftar pada tahun 2021 dan merupakan angka terendah sejak kementerian mulai menerbitkan data pada tahun 1986.
Pembuat kebijakan selanjutnya melonggarkan batasan kelahiran pada tahun 2021, mengizinkan tiga anak, dan meningkatkan upaya untuk mendorong keluarga yang lebih besar, termasuk melalui rencana yang dirilis tahun lalu untuk memperkuat cuti hamil, dan menawarkan potongan pajak dan tunjangan lain kepada keluarga.
Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil di tengah perubahan norma gender, tingginya biaya hidup dan pendidikan, serta ketidakpastian ekonomi.
Bulan lalu, QiaoYin City Management, sebuah perusahaan layanan sanitasi perkotaan, mengumumkan akan menawarkan bonus 100.000 yuan (Rp207 juta) kepada karyawan yang melahirkan anak ketiga. Langkah itu bertujuan untuk mengurangi beban keuangan keluarga karyawan muda dan menanggapi seruan pemerintah untuk mendorong kelahiran, kata perusahaan itu.
Tingkat kelahiran yang menurun bukan satu-satunya kekhawatiran bagi Beijing. Lebih sedikit orang di China juga menikah, yang bisa menambah masalah.
Sekitar 6,83 juta pasangan menikah pada 2022, menurut data yang dirilis Kementerian Urusan Sipil China awal bulan ini. Jumlah itu turun sekitar 10,5% dari 7,63 juta pernikahan yang terdaftar pada tahun 2021 dan merupakan angka terendah sejak kementerian mulai menerbitkan data pada tahun 1986.
Pembuat kebijakan selanjutnya melonggarkan batasan kelahiran pada tahun 2021, mengizinkan tiga anak, dan meningkatkan upaya untuk mendorong keluarga yang lebih besar, termasuk melalui rencana yang dirilis tahun lalu untuk memperkuat cuti hamil, dan menawarkan potongan pajak dan tunjangan lain kepada keluarga.
Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil di tengah perubahan norma gender, tingginya biaya hidup dan pendidikan, serta ketidakpastian ekonomi.
(ian)
Lihat Juga :