Serangan Balik Berjalan Lambat, Ini Penjelasan Ukraina

Rabu, 28 Juni 2023 - 01:37 WIB
loading...
Serangan Balik Berjalan...
Ukraina berikan penjelasan mengapa serangan balik mereka berjalan lambat. Foto/Ilustrasi
A A A
KIEV - Ukraina diduga bersikeras bahwa tidak ada penundaan yang disengaja sehubungan dengan serangan balasan yang banyak digembar-gemborkan, karena para pendukung Baratnya diduga semakin frustrasi dengan lambatnya kemajuan operasi. Begitu laporkan yang diturunkan Politico pada hari Senin.

Menurut outlet itu, para pejabat Ukraina telah menekankan bahwa mereka berharap operasi mereka dapat bergerak lebih cepat tetapi menuding faktor-faktor seperti keefektifan pesawat Rusia, ladang ranjau, dan cuaca buruk dalam mencoba menjelaskan mengapa angkatan bersenjata mereka gagal membuat kemajuan penting.

“Kami masih bergerak maju di berbagai bagian garis depan,” kata Yuri Sak, penasihat Menteri Pertahanan Ukraina Aleksey Reznikov, kepada Politico seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (28/6/2023).

Baca Juga: Bos Wagner: Kami Tunjukkan Kelas Master Bagaimana Menginvasi Ukraina

“Sebelumnya tidak mungkin untuk menilai soliditas pertahanan Rusia,” tambahnya.

“Hanya sekarang kami melakukan operasi penyelidikan aktif, kami mendapatkan gambaran yang lebih baik. Informasi yang diperoleh akan dimasukkan ke dalam tahap selanjutnya dari operasi ofensif kami,” ia mencatat.

Namun demikian, Politico mengklaim bahwa pendukung Kiev di Washington dan di Eropa tidak senang dengan lambatnya operasi tersebut dan diduga menuntut agar pasukan Ukraina bergegas serta segera mendapatkan keuntungan yang signifikan di medan perang.

Mereka juga dilaporkan mengkritik Angkatan Bersenjata Ukraina karena terlalu berhati-hati, menunggu cuaca yang sempurna dan faktor lain untuk menyelaraskan sebelum menyerang posisi Rusia.

Baca Juga: 2 Jet Tempur Su-27 Rusia Cegat 3 Pesawat Militer Inggris di Atas Laut Hitam

Outlet itu juga mencatat bahwa sejumlah analis telah memperingatkan selama beberapa waktu bahwa terlepas dari semua pelatihan Barat yang diberikan kepada komandan Ukraina, tetap tidak mungkin bahwa Kiev akan memenuhi standar pertempuran NATO dan akan terus beroperasi dengan strategi gesekan tanpa menggunakan operasi senjata gabungan, perang manuver, dan serangan presisi jarak jauh dengan benar.

Prediksi itu muncul ketika Menteri Luar Negeri Ukraina Dmitry Kuleba menegaskan kembali tuntutan Kiev untuk lebih banyak sistem artileri dan rudal, selama pertemuan para diplomat top Uni Eropa pada hari Senin. Dia juga bersikeras untuk mempercepat pelatihan pilot Ukraina tentang jet tempur canggih dan menyerukan lebih banyak sanksi untuk diterapkan pada Rusia.

Kiev dan pendukung Baratnya telah menilai bagaimana memanfaatkan "jendela" peluang yang disebabkan oleh pemberontakan yang dilancarkan di Rusia oleh kepala kelompok tentara bayaran Wagner Evgeny Prigozhin selama akhir pekan.

Namun secara resmi, Washington tetap diam atas pemberontakan Wagner. Menurut sebuah laporan oleh Axios pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Antony Blinken dilaporkan telah meminta stafnya untuk tidak mengomentari insiden tersebut dan hanya mengatakan bahwa AS sedang memantau situasi.

Baca Juga: Para Diplomat AS Diperintahkan Tidak Bahas Pemberontakan Wagner
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengapa Turki Jual Sistem...
Mengapa Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA? Ini Alasan Utamanya
Rusia Terbuka Jika Turki...
Rusia Terbuka Jika Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA
AS Serang Jembatan Kereta...
AS Serang Jembatan Kereta Api Strategis yang Hubungkan Iran ke China dan Rusia
Ukraina Menggila, Pertahanan...
Ukraina Menggila, Pertahanan Udara Rusia Hancurkan 5.000 Drone dalam Sepekan
Berubah Pikiran Lagi,...
Berubah Pikiran Lagi, AS Akan Pasok Rudal Canggih Tomahawk ke Jerman
Saat Hadapi Invasi Drone...
Saat Hadapi Invasi Drone Ukraina, Rusia Deklarasikan Perang Melawan NATO
Rusia Larang Ekspor...
Rusia Larang Ekspor Solar, Picu Kekhawatiran Baru di Pasar Energi Dunia
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 3.535 Jiwa, Ancaman Krisis Kesehatan Mengintai
Pesawat Cessna Jatuh...
Pesawat Cessna Jatuh di Hutan, 10 Orang Tewas
Rekomendasi
Kortas Tipidkor Polri...
Kortas Tipidkor Polri Limpahkan 3 Perkara Korupsi ke Kejagung
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
Harta Kekayaan Rudi...
Harta Kekayaan Rudi Margono Plt Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah Capai Rp7,2 Miliar, Ini Rinciannya
Berita Terkini
Pecahkan Rekor! 10 Juta...
Pecahkan Rekor! 10 Juta Orang Hadiri Upacara Pemakaman Khamenei
Mengapa Turki Jual Sistem...
Mengapa Turki Jual Sistem Pertahanan Udara S-400 ke UEA? Ini Alasan Utamanya
Iran Akui Melakukan...
Iran Akui Melakukan Kesalahan Menembaki Kapal Tanker di Selat Hormuz
Ini Reaksi 9 Pemimpin...
Ini Reaksi 9 Pemimpin Negara NATO setelah Menerima Hadiah Pistol dari Erdogan
Bagaimana Rencana Baru...
Bagaimana Rencana Baru Iran Bunuh Trump Terungkap?
AS dan Iran Akan Kembali...
AS dan Iran Akan Kembali ke Meja Perundingan, tapi Trump punya 1 Syarat, Apa Itu?
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved