Afrika Selatan Mungkin Pindah Tempat KTT BRICS ke China, Ini Alasannya

Kamis, 01 Juni 2023 - 09:50 WIB
loading...
Afrika Selatan Mungkin...
Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada KTT BRICS di Johannesburg, Afrika Selatan, 26 Juli 2018. Foto/Sputnik/Alexei Nikolsky/Kremlin/REUTERS
A A A
PRETORIA - Afrika Selatan mungkin meminta China menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi (KTT) BRICS pada bulan Agustus.

Dengan langkah itu, Afrika Selatan tidak harus berurusan dengan surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.

Perkiraan itu dilaporkan Reuters pada Rabu (31/5/2023), mengutip seorang pejabat pemerintah anonim.

Pertemuan yang melibatkan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan itu dijadwalkan akan dimulai pada 22 Agustus.

Presiden Rusia Vladimir Putin dengan diundang untuk hadir kembali pada Januari. Namun, pada Maret, ICC mendakwanya dengan kejahatan perang berdasarkan klaim Ukraina tentang "pemindahan paksa" anak-anak selama konflik bersenjata antara kedua tetangga.

Moskow mengatakan warga sipil dievakuasi dari tembakan artileri Ukraina dan karena Rusia tidak mengakui yurisdiksi ICC, surat perintah itu batal demi hukum.

Baca juga: Senjata AS untuk Ukraina Terlihat di Tangan Anggota Kartel Narkoba Meksiko

Afrika Selatan, bagaimanapun, adalah pihak penandatangan Statuta Roma yang mencakup ICC, dan akan diwajibkan secara hukum untuk menangkap Putin jika dia datang berkunjung.

“Salah satu opsi mendapatkan daya tarik di Pretoria adalah meminta China menjadi tuan rumah acara BRICS,” ungkap seorang pejabat senior pemerintah yang berbicara dengan badan tersebut tanpa menyebut nama. Seperti Moskow, Beijing bukanlah pihak dalam Statuta Roma.

“Karena kewajiban hukum kami, kami harus menangkap Presiden Putin, tetapi kami tidak dapat melakukan itu,” ujar mantan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki dalam wawancara radio pekan lalu.

Dia menjelaskan KTT BRICS tidak mungkin terjadi di Afrika Selatan untuk alasan itu.

Menteri Hubungan Internasional dan Kerjasama Afrika Selatan Grace Naledi Mandisa Pandor mengatakan pada Selasa bahwa kekebalan diplomatik yang diberikan kepada semua peserta KTT tidak mengesampingkan surat perintah apa pun yang mungkin telah dikeluarkan oleh pengadilan internasional mana pun.

“Pretoria sedang mempertimbangkan mengesahkan undang-undang yang akan memberinya keleluasaan dalam menegakkan surat perintah penangkapan ICC,” papar Wakil Menteri Tata Kelola Koperasi dan Urusan Adat Obed Bapela kepada BBC pada Selasa.

Namun, seorang pejabat Departemen Kehakiman yang berbicara dengan Reuters secara anonim mengatakan tidak ada cukup waktu untuk mendapatkan undang-undang semacam itu melalui parlemen sebelum pertemuan puncak.

"Belum ada keputusan tegas," ujar Zane Dangor, direktur jenderal departemen hubungan internasional, kepada Reuters.

Dia mengatakan para menteri yang ditugaskan untuk masalah ini akan segera bertemu untuk mempertimbangkan laporan yang menetapkan semua opsi.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pada Selasa bahwa Rusia akan mengambil bagian dalam KTT BRICS pada "tingkat yang tepat".

Dia menambahkan, Moskow mengharapkan negara-negara mitra seperti Afrika Selatan tidak dipandu oleh "keputusan ilegal" seperti surat perintah ICC.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Hampir Setengah Warga...
Hampir Setengah Warga Israel Dukung Serangan ke Lebanon meski Harus Melawan Trump
Rekomendasi
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
Logo HUT ke-80 RI, Ini...
Logo HUT ke-80 RI, Ini Penjelasan Angka 80 Warna Merah-Putih dengan Garis Infinity
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved