Sekjen PBB: Dunia Gagal Lindungi Warga Sipil yang Terjebak Konflik

Rabu, 24 Mei 2023 - 08:18 WIB
loading...
Sekjen PBB: Dunia Gagal...
Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut dunia gagal lindungi warga sipil dari konflik bersenjata. Foto/France 24
A A A
NEW YORK - Dunia gagal melindungi warga sipil karena jumlah orang yang terjebak dalam konflik dan gempa susulan kemanusiaan meroket tahun lalu. Hal itu dikatakan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres.

Pada tahun 2022, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghitung peningkatan 53 persen kematian warga sipil dibandingkan tahun sebelumnya, dengan hampir 17.000 kematian warga sipil tercatat dalam 12 konflik.

"Dunia gagal memenuhi komitmennya untuk melindungi warga sipil; komitmen yang diabadikan dalam hukum kemanusiaan internasional," Guterres memperingatkan Dewan Keamanan PBB, mengutip kematian warga sipil di Ukraina dan Sudan, sekolah hancur di Ethiopia dan kerusakan infrastruktur air di Suriah.

Guterres, yang duduk di sebelah duta besar Rusia Vasily Nebenzya, mengatakan penelitian PBB tentang perlakuan terhadap warga sipil di zona perang menunjukkan 94 persen korban "senjata peledak" di daerah berpenduduk adalah warga sipil tahun lalu, sementara lebih dari 117 juta orang menghadapi kelaparan akut terutama karena perang dan ketidakamanan.

Di Ukraina saja, yang telah berjuang melawan invasi Rusia selama lebih dari setahun, PBB mencatat hampir 8.000 kematian warga sipil dan lebih dari 12.500 cedera, meskipun menambahkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.

Baca Juga: Sekjen PBB Kutuk Serangan Israel Tewaskan Warga Sipil

"Di seluruh dunia, jumlah pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena konflik, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia dan penganiayaan telah mencapai 100 juta," tambah Sekjen PBB.

"Warga sipil sudah terlalu lama menderita akibat mematikan dari konflik bersenjata," kata Guterres.

"Sudah saatnya kita memenuhi janji kita untuk melindungi mereka," ujarnya seperti dikutip dari France 24, Rabu (24/5/2023).

Juga berbicara di depan Dewan Keamanan adalah Mirjana Spoljaric, presiden Komite Palang Merah Internasional.

"Ketika kita bertemu, tak terhitung warga sipil dalam konflik di seluruh dunia sedang mengalami neraka hidup," kata Spoljaric mengatakan kepada para anggota DK PBB.

"Setiap saat, rudal berikutnya dapat melenyapkan rumah mereka, sekolah mereka, klinik mereka dan semua orang di dalamnya," imbuhnya.

Baca Juga: Sekjen PBB: Perundingan Damai Ukraina dan Rusia Sekarang Tidak Mungkin

"Setiap minggu, mereka mungkin kehabisan makanan atau obat-obatan," ucapnya.

Alain Berset, Presiden Swiss yang menjabat presiden bergilir DK PBB pada Mei, mengatakan bahwa semua pihak yang berkonflik harus mematuhi hukum kemanusiaan internasional.

"Konflik adalah pendorong utama kelaparan," katanya. "Semakin banyak orang menghadapi kerawanan pangan akut," dengan sebagian besar terkonsentrasi di zona konflik seperti Republik Demokratik Kongo, Sudan dan Sahel, "atau dalam konteks lain di mana kekerasan mewabah, seperti Haiti."

Duta Besar Prancis untuk PBB Nicolas de Riviere menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Rusia di Ukraina dan oleh kelompok tentara bayaran Rusia Wagner di Republik Afrika Tengah dan Mali.

"Peningkatan jumlah warga sipil yang tewas dalam konflik bersenjata tahun lalu sangat meresahkan," tambahnya.

Baca Juga: Sambut Hari Kebebasan Pers Dunia, Sekjen PBB Kutuk Meningkatnya Ancaman pada Jurnalis
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
4 Alasan Iran Mampu...
4 Alasan Iran Mampu Memberikan Pukulan Telak ke Amerika Serikat dan Israel
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
Kesepakatan Iran Mencakup...
Kesepakatan Iran Mencakup Dana Rp5.327 Triliun, Setengahnya Sudah Jadi Komitmen
Kenapa Perdamaian Iran...
Kenapa Perdamaian Iran Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan?
WSIS Prizes 2026 PBB:...
WSIS Prizes 2026 PBB: Dua Program Digitalisasi Kemendikdasmen Diakui Dunia
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Viral, Ribuan Warga...
Viral, Ribuan Warga Malaysia Antre 2 Km di Bawah Terik Matahari untuk Melamar Kerja
Rekomendasi
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp30.000 per Gram, Cek Daftar Lengkapnya
Kontras Ungkap Update...
Kontras Ungkap Update Kondisi Andrie Yunus, Sudah Pulang dan Jalani Fisioterapi
Volkswagen Memangkas...
Volkswagen Memangkas Produksi Pabriknya di Jerman, Ini Pertimbangan
Berita Terkini
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Infografis
10 Negara Terhebat yang...
10 Negara Terhebat yang Pernah Tercatat dalam Sejarah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved