Terjadi Lagi, Kapal Patroli China dan Filipina Hampir Tabrakan di Laut China Selatan

Minggu, 30 April 2023 - 20:30 WIB
loading...
Terjadi Lagi, Kapal...
Satu kapal Penjaga Pantai China berada di dekat Pulau Thitu yang diduduki Filipina, di Kepulauan Spratly yang disengketakan, Laut China Selatan, pada 9 Maret 2023. Foto/REUTERS
A A A
MANILA - Kapal-kapal patrol China dan Filipina nyaris bertabrakan di Laut China Selatan pada Minggu (30/4/2023). Kejadian terbaru itu sebagai tanda lain dari ketegangan lanjutan atas perairan yang diperebutkan karena kedua belah pihak saling menuduh melakukan gangguan dan provokasi.

Sebelumnya, dua kapal penjaga pantai China memblokir kapal patroli Filipina di sekitar beting Ayungin pada 23 April, dengan salah satu kapal melakukan “manuver berbahaya dan berada dalam jarak 50 yard dari kapal negara Asia Tenggara itu,” menurut penjaga pantai Filipina pada Jumat.

“Kejadian serupa didokumentasikan pada 19 April di area yang sama,” ungkap Departemen Luar Negeri (Deplu) Filipina.

Deplu Filipina mengutip insiden lain dari “manuver yang sangat berbahaya oleh kapal China.”

“Manuver China profesional dan terkendali," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning pada Jumat dalam jumpa pers reguler di Beijing.

Baca juga: Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei: Bahkan 1 Tentara AS di Irak Terlalu Banyak

“Perlu ditekankan bahwa kapal Filipina menyusup ke perairan itu dengan staf pers di dalamnya. Ini memperjelas bahwa itu adalah provokasi terencana yang dirancang untuk memulai gesekan, menyalahkan China dan membesar-besarkan insiden tersebut,” papar Mao.

Kedua negara telah terkunci dalam sengketa teritorial di perairan yang kaya sumber daya, dengan pemerintah Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr meningkatkan protes atas tindakan Beijing.

China telah menyatakan kehadirannya di wilayah itu sah, bahkan setelah pengadilan internasional membatalkan klaim lautnya yang luas pada tahun 2016.

Insiden itu terjadi saat AS dan Filipina melakukan latihan militer gabungan terbesar mereka yang akan berakhir Jumat.

Pemerintah Marcos telah memperkuat aliansinya dengan Washington, baru-baru ini memperluas akses AS ke situs militer negaranya.

Dia diperkirakan akan membahas kesepakatan pertahanan dengan Presiden Joe Biden dalam pertemuan pekan depan.

Penjaga Pantai Filipina mengatakan pada Jumat bahwa pihaknya melakukan patroli selama tujuh hari di Laut China Selatan hingga Senin atas arahan Marcos.

Ia juga melaporkan “konfrontasi” terpisah dengan kapal Angkatan Laut China di dekat Pulau Pagasa pada 21 April.

Kapal China dilaporkan memberi tahu kapal-kapal Filipina melalui radio untuk meninggalkan daerah itu, dan kegagalan untuk mematuhinya dapat “menyebabkan masalah.”

Sekitar seratus kapal milisi maritim China berada di sekitar Julian Felipe Reef pada saat yang sama, menurut laporan televisi pemerintah Filipina PTV.

Laporan itu juga menunjukkan personel penjaga pantai dari kedua negara bertukar tantangan radio dan meminta satu sama lain untuk meninggalkan perairan yang disengketakan.

“Kami mendesak Filipina untuk menghormati kedaulatan dan hak maritim serta kepentingan China di China Selatan dan berhenti melakukan tindakan yang dapat memperumit situasi,” tegas Mao.

Departemen luar negeri Filipina juga meminta China melakukan hal yang sama “dan menahan diri dari tindakan yang dapat menyebabkan insiden yang tidak diinginkan.”
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Duh, AS-Iran Saling...
Duh, AS-Iran Saling Serang Lagi Gara-Gara Salah Menafsirkan MoU Perjanjian Damai
Rekomendasi
Kejutan! Paraguay Singkirkan...
Kejutan! Paraguay Singkirkan Jerman Lewat Adu Penalti
Indonesia-Singapura...
Indonesia-Singapura Teken MoU Jaga Lingkungan Hidup
Malaysia Prediksi Gejolak...
Malaysia Prediksi Gejolak Harga Energi Berlanjut Dua Tahun ke Depan
Berita Terkini
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Jerman Diguncang Penembakan,...
Jerman Diguncang Penembakan, 6 Orang Tewas
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Infografis
Kapal Selam Nuklir AS...
Kapal Selam Nuklir AS Muncul di Korea Selatan, Korea Utara Marah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved