Jerman kepada China: Tekan Agresor Rusia untuk Akhiri Perang Ukraina!

Sabtu, 15 April 2023 - 02:38 WIB
loading...
Jerman kepada China:...
Jerman desak China gunakan pengaruhnya guna menekan Rusia agar menghentikan perang di Ukraina. Foto/Suo Takekuma/Pool via REUTERS
A A A
BEIJING - Pemerintah Jerman telah mendesak China menekan apa yang mereka sebut "agresor Rusia" untuk mengakhiri perang Ukraina .

Desakan ini disampikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman Annalena Baerbock setelah pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri China Qin Gang di Beijing, Jumat (14/4/2023).

Baerbock mengatakan tidak ada negara lain selain China yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap Rusia.

Diplomat Berlin itu juga menyatakan keprihatinan tentang masalah hak asasi manusia (HAM) dan meningkatnya ketegangan dengan Taiwan.

Kunjungannya dilakukan seminggu setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen, yang juga mendorong China untuk memainkan peran lebih besar dalam menyelesaikan krisis Ukraina.

Baca Juga: Moskow: Polandia Akan Lenyap Jika Rusia-NATO Perang Langsung

“Bagus bahwa China telah mengisyaratkan komitmennya untuk solusi tetapi saya harus mengatakan terus terang bahwa saya bertanya-tanya mengapa posisi China sejauh ini tidak memasukkan seruan kepada agresor Rusia untuk menghentikan perang,” kata Baerbock, seperti dikutip Reuters.

Setelah pertemuan itu, China mengumumkan bahwa Menteri Pertahanan Li Shangfu akan mengunjungi Rusia pada hari Minggu untuk kunjungan empat hari, atas undangan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu.

China telah memposisikan dirinya sebagai mediator netral sepanjang perang di Ukraina, tetapi penolakannya untuk mengutuk invasi Rusia dan kunjungan baru-baru ini ke Moskow oleh Presiden Xi Jinping telah menyebabkan kekuatan Barat menuduhnya mendukung sekutu tradisionalnya.

Qin mengatakan, "China percaya satu-satunya cara untuk menyelesaikan krisis Ukraina adalah dengan mempromosikan perdamaian dan pembicaraan."

“Krisis Ukraina telah berkembang hingga hari ini, dan pelajarannya sangat mendalam, layak untuk direnungkan secara mendalam oleh semua pihak. Wilayah tidak bisa dipisahkan, dan keamanan juga tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

“Tanpa pengakuan kepentingan keamanan pihak tertentu, krisis dan konflik tidak bisa dihindari,” imbuh dia.

Sementara itu, Baerbock mengatakan dia memberi tahu Qin tentang kekhawatiran Jerman bahwa hak asasi manusia "dibatasi" di China dengan "ruang lingkup keterlibatan masyarakat sipil" juga menyusut.

Pada hari Senin, China menghukum dua pengacara hak asasi manusia terkemuka selama lebih dari satu dekade penjara.

Xu Zhiyong dan sesama juru kampanye HAM, Ding Jiaxi, dihukum atas tuduhan subversi kekuasaan negara dalam persidangan tertutup.

Baerbock secara langsung menyinggung Xinjiang, merujuk pada laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merinci serangkaian pelanggaran HAM terhadap Uighur dan minoritas Muslim lainnya di provinsi tersebut, termasuk tuduhan penyiksaan yang meluas yang kredibel.

Namun, Qin menepis kekhawatiran soal HAM dengan mengatakan setiap gesekan dipusatkan pada perang melawan separatisme.

Soal Taiwan, Baerbock mengatakan eskalasi militer akan menjadi "skenario horor" bagi seluruh dunia.

Dia menegaskan kembali posisi Jerman soal kebijakan Satu China, yang menurutnya Beijing diakui sebagai satu-satunya pemerintah China yang sah dan bahwa Berlin tidak mempertahankan hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Baerbock menekankan, bagaimanapun, bahwa perubahan status quo dengan kekerasan tidak dapat diterima.

Awal pekan ini, China mengakhiri tiga hari latihan tembakan langsung di dekat pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu sebagai tanggapan atas perjalanan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen baru-baru ini ke Amerika Serikat.

Beijing menegaskan bahwa Taiwan, negara demokrasi yang memerintah sendiri, adalah bagian dari wilayahnya, meskipun pulau telah memiliki pemerintahan independen sejak 1949.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
50 Senator AS Dukung...
50 Senator AS Dukung Resolusi Anti-Perang Iran, Trump Kehilangan Dukungan
Rekomendasi
Menkes: Yang Paling...
Menkes: Yang Paling Banyak Dikeluhkan Dokter adalah Perundungan
Sering Dibully karena...
Sering Dibully karena Kondisi Fisiknya, Debi Ceper Mengaku Tak Pernah Sakit Hati
Daftar 10 Tim Lolos...
Daftar 10 Tim Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved