AS akan Bangun Pangkalan Militer Baru di Dekat Laut China Selatan

Kamis, 23 Maret 2023 - 16:57 WIB
loading...
AS akan Bangun Pangkalan...
Kapal tunda menarik kapal serbu amfibi USS Peleliu (LHA-5) saat meninggalkan Subic Bay Freeport, bekas pangkalan Angkatan Laut AS, di kota Olongapo, utara Manila, 22 Oktober 2014. Foto/REUTERS/Lorgina Minguito
A A A
MANILA - Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menyatakan Amerika Serikat (AS) akan membangun empat pangkalan militer baru yang “tersebar” di sekitar Filipina.

Dia mencatat setidaknya satu fasilitas akan ditempatkan di dekat gugusan pulau yang disengketakan yang diklaim China dan beberapa negara lain.

Berbicara kepada wartawan pada Rabu (22/3/2023), pemimpin Filipina menawarkan perincian tambahan tentang instalasi baru, yang pertama kali diungkapkan bulan lalu sebagai bagian dari Perjanjian Kerjasama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA) dengan Washington.

Namun, dia mengatakan dia tidak dapat mengungkapkan lokasi persisnya sampai pengumuman resmi dibuat bersama AS.

“Ada empat lokasi tambahan yang tersebar di sekitar Filipina, ada beberapa di utara, ada beberapa di sekitar Palawan, ada beberapa lagi di selatan,” papar dia.

Baca juga: Medvedev: Tank T-90M Rusia Terbaik di Dunia, Ungguli Leopard, Challenger, dan Abrams

Dia menambahkan, pangkalan tersebut akan membantu mempertahankan pulau terbesar di negara itu, Luzon.

Palawan adalah salah satu wilayah paling barat Filipina, dan terletak sekitar 200 mil (320 kilometer) timur kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan, yang juga dikenal dengan beberapa nama lokal lainnya.

Enam negara telah mengklaim bagian dari gugusan pulau kecil itu, di antaranya China, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Brunei, serta Filipina.

Baca juga: Israel Disebut akan Serang Iran Jika Tingkat Pengayaan Uranium Melebihi 60%

Pejabat AS telah berulang kali menolak klaim Beijing sebagai "melanggar hukum".

Pangkalan Amerika Serikat (AS) di Luzon, kemungkinan besar akan dibangun dengan mempertimbangkan Taiwan, mengingat letaknya yang dekat dengan pulau yang dianggap China sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya.

Meskipun Washington telah lama mempertahankan kebijakan "ambiguitas strategis" terhadap Taipei, Presiden Joe Biden telah melanggar pendekatan itu.

Biden secara eksplisit menyatakan pasukan AS akan mempertahankan Taiwan jika terjadi serangan China.

Ditanya tentang rencana pangkalan baru selama jumpa pers hari Rabu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin berpendapat kerja sama militer antar negara harus “kondusif bagi perdamaian dan stabilitas regional dan tidak ditargetkan atau merugikan kepentingan pihak ketiga mana pun.”

“Pihak AS, karena kepentingan egoisnya, tetap terjebak dalam mentalitas zero-sum dan terus meningkatkan pengerahan militer di Asia-Pasifik,” ujar dia.

Dia menambahkan, “Negara-negara kawasan harus tetap waspada dan menghindari paksaan atau digunakan oleh AS."

Presiden Marcos kemudian memperingatkan tentang lingkungan keamanan yang “kompleks” dan “tidak dapat diprediksi” di kawasan itu, dengan mengatakan dia menyadari “ancaman yang muncul” yang akan membutuhkan “penyesuaian dalam strategi kami” tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Di bawah EDCA 2014, AS awalnya diizinkan membangun lima pangkalan militer di sekitar Filipina, tetapi pakta tersebut baru-baru ini diperluas ke empat lokasi "strategis" tambahan.

Washington sejauh ini telah menghabiskan USD82 juta untuk lima fasilitas asli, dan terus bekerja di sejumlah pangkalan yang pada akhirnya akan menjadi tuan rumah pengerahan pasukan bergilir.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Menkeu Purbaya Raih...
Menkeu Purbaya Raih Gelar Profesor Kehormatan Bidang Ekonomi dari Nankai University
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Tok! Senat AS Sahkan...
Tok! Senat AS Sahkan Resolusi Hentikan Perang Lawan Iran
Rekomendasi
60 Ribu Guru Dipanggil...
60 Ribu Guru Dipanggil PPG 2026 Tahap 2, Ini Tahapan dan Dokumen yang Wajib Disiapkan
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Beri Dukungan untuk Nikita Mirzani Jelang Sidang PK Perdana
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Menguat 0,44 Persen ke Level 6.128
Berita Terkini
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
PBB Mulai Evakuasi 11.000...
PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Infografis
Jet Tempur F/A-18 AS...
Jet Tempur F/A-18 AS Seharga Rp1 Triliun Hilang di Laut Merah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved