Langkah China Damaikan Arab Saudi dan Iran Ubah Timur Tengah, AS Terpukul

Rabu, 15 Maret 2023 - 10:11 WIB
loading...
A A A
Fomenko menjelaskan, para penentang agenda AS termasuk rezim Arabis revolusioner, seperti Pemimpin Irak Saddam Hussein dan Presiden Suriah Bashar Assad, kelompok teroris seperti Al-Qaeda dan ISIS, dan tentu saja Republik Islam Iran pasca-1979.

Setelah AS menyerah pada upayanya yang gagal untuk menggulingkan Assad, para pembuat kebijakan dalam pemerintahan Donald Trump memutuskan untuk fokus pada Teheran, merobek partisipasi AS dalam Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dan memberlakukan rezim sanksi yang melumpuhkan.

Sebagai pembalasan, Iran telah mengobarkan serangkaian konflik proksi terhadap mitra AS di wilayah tersebut, terutama membantu Houthi di Yaman melawan pemerintah yang didukung Arab Saudi, yang telah mengawasi pengeboman karpet di wilayah yang diduduki.

Kebijakan China di Timur Tengah

Berbeda dengan Amerika Serikat, kebijakan China di Timur Tengah bersifat non-intervensi, dan mengambil sikap netral dalam konflik regional, dengan mengambil sikap menghormati kedaulatan nasional.

Namun, ini tidak berarti Beijing tidak memiliki kepentingan di wilayah tersebut. Ketika tumbuh dan berkembang di dalam negeri, kebutuhan China akan akses yang aman ke sumber daya energi telah meningkat, mendorongnya pada langkah diplomatik untuk membangun hubungan baik dengan setiap negara di kawasan, dan ini semakin cepat karena AS telah mendorong untuk mengisolasi China dari Barat.

Terlepas dari perebutan kekuasaan intra-regional, dalam dua tahun terakhir, Beijing mengumumkan kemitraan strategis dengan Iran dan Negara-negara Teluk.

Multipolaritas

Karena China tidak memiliki jejak atau kepentingan militer yang sama di Timur Tengah seperti AS, banyak analis meremehkan kemampuan Beijing untuk secara serius bertindak sebagai mediator diplomatik di wilayah tersebut.

Mereka percaya bahwa upayanya membangun hubungan baik dengan semua orang terlalu tipis. Namun, kesepakatan Saudi-Iran menunjukkan asumsi ini salah. Tapi bagaimana itu bisa terjadi?

“Pertama, perlu dicatat bahwa Negara-negara Teluk bukanlah sekutu nilai bagi AS seperti halnya negara-negara Eropa, dan tidak berkewajiban secara moral untuk mengikuti tujuan Amerika,” ungkap Fomenko.

“Sebaliknya, mereka adalah monarki yang mementingkan diri sendiri dengan ideologi dan sistem nilai yang sangat berbeda (Islam Wahabi yang ketat) dan telah melihat AS sebagai pelindung dalam menjamin kepentingan ekonomi dan keamanan mereka (minyak untuk senjata). Ini bukan perkawinan, hanya bisnis,” papar dia.

Dia menjelaskan, “Harus dipahami bahwa dunia telah berubah dengan cara yang sekarang membuat negara-negara ini merasa bahwa dominasi AS yang tak tertandingi, yang merupakan tujuan kebijakan luar negerinya yang tegas, tidak lagi menjadi kepentingan terbaik mereka.”

“Mereka telah menemukan mitra baru yang lebih besar di Beijing yang tidak hanya dapat membeli lebih banyak minyak mereka, tetapi juga tidak memiliki doktrin kebijakan luar negeri yang didasarkan pada penginjilan ideologinya atau menciptakan perang di seluruh wilayah,” ujar dia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demi Moral, Turki Tolak...
Demi Moral, Turki Tolak Berlabuh Kapal Pesiar Pembawa 2.000 Penumpang LGBTQ
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji...
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji Ditandatangani, China Uji Coba Rudal di Pasifik
Seruan Bunuh Trump Menggema...
Seruan 'Bunuh Trump' Menggema dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Didatangi Jutaan Pelayat,...
Didatangi Jutaan Pelayat, Ini Latar Belakang Ali Khamenei sebagai Keturunan Nabi Muhammad SAW
Tiga Putra Hadir Doakan...
Tiga Putra Hadir Doakan Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Tetap Tak Muncul
Iran Kecam Trump karena...
Iran Kecam Trump karena Ancam Lenyapkan Semua Orang di Pemakaman Khamenei dengan Sekali Tembak
Duo Zou Bersaudara Asal...
Duo Zou Bersaudara Asal China Mendadak Jadi Miliarder Gara-gara Robot Humanoid, Begini Kisahnya
Rusia Klaim Kuasai Benteng...
Rusia Klaim Kuasai Benteng Pertahanan Terkuat Ukraina di Konstantinovka, Tewaskan 13.500 Tentara
Tragis! Putra Mantan...
Tragis! Putra Mantan Miss World Venezuela Ditemukan Meninggal usai 9 Hari Tertimbun Reruntuhan Gempa
Rekomendasi
UIN Jakarta Tegaskan...
UIN Jakarta Tegaskan Status Guru Triguna Tetap Aman, Tata Kelola Sekolah Beralih ke Skema BLU
Road To Garmin Run 2026,...
Road To Garmin Run 2026, Sampah Disulap Jadi Plakat Juara
Mau Liburan Lebih Berkesan?...
Mau Liburan Lebih Berkesan? Ini 5 Travel Essential yang Wajib Masuk Koper
Berita Terkini
Demi Moral, Turki Tolak...
Demi Moral, Turki Tolak Berlabuh Kapal Pesiar Pembawa 2.000 Penumpang LGBTQ
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji...
Aliansi Pertahanan Australia-Fiji Ditandatangani, China Uji Coba Rudal di Pasifik
Kunjungan PM India ke...
Kunjungan PM India ke Indonesia Jadi Momentum Perkuat Dialog Perlindungan Minoritas
Kapal Pesiar Supermewah...
Kapal Pesiar Supermewah Diduga Milik Putin Muncul Dikawal Kapal Perang Rusia, Dibuntuti Pasukan NATO
Sidang Pemakzulan Digelar,...
Sidang Pemakzulan Digelar, Nasib Wakil Presiden di Ujung Tanduk
Seruan Bunuh Trump Menggema...
Seruan 'Bunuh Trump' Menggema dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved