Eks Penasihat Kremlin: Biden Pemicu Perang Ukraina karena Benci Putin

Sabtu, 25 Februari 2023 - 20:23 WIB
loading...
Eks Penasihat Kremlin:...
Eks penasihat Kremlin sebut Biden pemicu perang Ukraina karena benci Putin. Foto/Ilustrasi
A A A
MOSKOW - Seorang mantan penasihat Vladimir Putin menyalahkan perang di Ukraina atas komentar yang dibuat Joe Biden kepada presiden Rusia 13 tahun lalu.

Analis politik Sergei Markov membuat pernyataan tersebut selama diskusi di acara YouTube Ostorozhno Sobchak (Hati-hati Sobchak), yang dipandu oleh jurnalis dan tokoh televisi Ksenia Sobchak.

Dalam sebuah klip, yang di-tweet oleh penasihat urusan dalam negeri Ukraina Anton Gerashchenko, aktivis oposisi Rusia Marina Litvinovich menggambarkan bagaimana sejumlah besar orang terlibat dalam perang, termasuk warga sipil Ukraina, militer, dan anak-anak yang belum lahir.

Markov menyela untuk mengatakan perang harus segera dihentikan, dan menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden adalah pihak yang sebenarnya bersalah dalam memulai perang ini.

"Ini adalah perang pribadi Joe Biden yang membenci Putin," kata Markov seperti dikutip dari Newsweek, Sabtu (25/2/2023).

"Ketika Biden datang ke sini pada 2010, dia berkata, 'Vladimir Vladimirovich, kami menyarankan Anda untuk tidak mencalonkan diri dalam pemilihan,'" ucap Markov.

Baca: Perang Ukraina Masuki Tahun Kedua, Sekutu Rusia Siapkan Rudal untuk Tempur

Setelah menjalani dua masa jabatan presiden berturut-turut yang diperbolehkan berdasarkan konstitusi Rusia saat itu, Putin menepi pada 2008, membuka jalan bagi Dmitry Medvedev untuk menjadi kepala negara.

Setelah empat tahun sebagai perdana menteri, Putin menjadi presiden lagi pada tahun 2012. Konstitusi telah diubah untuk memungkinkan Putin berpotensi tetap sebagai presiden hingga tahun 2036.

Menurut Markov, ketika Biden menjadi wakil presiden di bawah Barack Obama, dia memberi tahu Putin untuk masa jabatan ketiga, berikan Dmitry Anatolyevich (Medvedev) kursi kepresidenan. Markov menambahkan bahwa Putin telah memarahinya tetapi Biden mulai membencinya.

Berbagi klip ucapan Markov, Gerashchenko menulis, "Penyebar propaganda Rusia mengatakan perang di Ukraina adalah kesalahan Joe Biden - karena, menurut penyebar propaganda, Biden membenci Putin karena tidak mengikuti nasihatnya pada tahun 2010."

"Geopolitik, gaya propaganda Rusia. Dan tidak ada kesalahan mereka," tambahnya.

Markov adalah profesor ilmu politik di Moscow State Institute of International Relations. Minggu ini, dia menyarankan bahwa Rusia, pada dasarnya, mengizinkan kunjungan mendadak Biden ke Kiev untuk bertemu dengan mitranya dari Ukraina, Volodymyr Zelensky.

Dia mengatakan kepada saluran televisi Russia 1 bahwa Biden telah menerima jaminan keamanan dari Moskow.

Baca: China Ajukan 12 Poin untuk Akhiri Perang Rusia-Ukraina, Ini Rincian Lengkapnya

"Karena kami menepati janji dan berpihak pada kebaikan dan peradaban," ujarnya.

Selama kunjungannya ke Kiev, Biden menegaskan kembali komitmen AS untuk memberikan bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina.

Namun, Biden mengatakan kepada ABC News bahwa dia mengesampingkan "untuk saat ini" menyediakan jet tempur F-16 AS untuk Ukraina, yang diminta Kiev.

Dia mengatakan bahwa Zelensky membutuhkan tank, dia membutuhkan artileri, dia membutuhkan pertahanan udara, termasuk HIMARS lainnya.

Ukraina telah meminta bantuan senjata lebih banyak, seperti jet NATO, untuk melawan agresi Rusia.

"Tidak ada dasar yang menjadi alasan, menurut militer kita sekarang, untuk menyediakan F-16," kata Biden kepada jaringan berita itu.

Baca: Joe Biden: Ukraina Tak Butuh Jet Tempur F-16 Sekarang
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
AS Habisi Bos Geng Tren...
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Trump Setuju Cairkan Aset Iran Rp426,7 Triliun yang Dibekukan AS
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Trump: AS dan Iran Teken...
Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
10 Negara dengan Rudal...
10 Negara dengan Rudal Balistik Terkuat di Dunia, Juaranya Bukan AS
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Heboh! Pentagon Sempat...
Heboh! Pentagon Sempat Lockdown Usai Sensor Deteksi Antraks, Ternyata Alarm Palsu
Cerita Shakira Kembali...
Cerita Shakira Kembali Bawakan Lagu Anthem Piala Dunia, Harus Membuat Orang Menari
Rekomendasi
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Unesa Buka Seleksi Jalur...
Unesa Buka Seleksi Jalur Mandiri Non Tes Rapor 2026, Simak Syaratnya
Kasus Muara Enim, Eks...
Kasus Muara Enim, Eks Penyidik KPK: WTP Penting Bagi Pemda, Malah Jadi Ajang Negosiasi
Berita Terkini
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
AS Habisi Bos Geng Tren...
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Trump Setuju Cairkan Aset Iran Rp426,7 Triliun yang Dibekukan AS
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Profesor AS: Israel,...
Profesor AS: Israel, Bukan Iran, yang Jadi Ancaman Nuklir Utama di Timur Tengah
Trump: AS dan Iran Teken...
Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
Infografis
Rusia Akui Kerahkan...
Rusia Akui Kerahkan Tentara Korut dalam Perang Lawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved