China kepada AS: Jangan Ikut Campur Soal Uighur

Rabu, 01 Juli 2020 - 13:17 WIB
"Dari 1978 hingga 2018, populasi Uigur di Xinjiang tumbuh dari 5,55 juta menjadi 11,68 juta, mencatat kenaikan 2,1 kali dan menyumbang sekitar 46,8 persen dari total populasi Wilayah Otonomi Uigur Xinjiang," kata juru bicara itu.

Sebaliknya, Zhao mengatakan, etnis minoritas di Amerika Serikat telah lama menderita bullying, pengucilan dan diskriminasi sistemik yang luas dalam aspek ekonomi, budaya, sosial dan lainnya. Ia mengutip contoh-contoh dari pembunuhan orang Indian melalui Ekspansi ke arah barat hingga kematian orang Afrika-Amerika George Floyd.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengecam China yang melakukan sterilisasi dan aborsi paksa serta pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi (IUD) kepada Muslim Uighur. Ia juga menyerukan China untuk menghentikan kampanye penindasan terhadap Muslim Uighur dan kaum perempuan kelompok minoritas lainnya.

"Dunia menerima laporan yang mengganggu hari ini bahwa Partai Komunis China (PKC) menggunakan sterilisasi paksa, aborsi paksa dan keluarga berencana dengan paksa terhadap Uighur dan minoritas lainnya di Xinjiang, sebagai bagian dari kampanye penindasan yang berkelanjutan," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan yang diposting oleh situs Departemen Luar Negeri AS. (Baca: Paksa Muslim Uighur Lakukan Aborsi, AS Kecam China )

Pompeo mengeluarkan pernyataan itu berdasarkan laporan investigasi Associated Press (AP) yang diterbitkan hari Senin. Laporan itu menyatakan pemerintah China dilaporkan "menundukkan" ratusan ribu perempuan Uighur dan minoritas Muslim lainnya dengan metode kontrol kelahiran yang dipaksakan termasuk wajib aborsi. (Baca: China Dilaporkan Berlakukan Wajib Aborsi untuk Muslim Uighur )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!