Ketegangan AS-China Soal Covid-19 Bisa Berubah Jadi Perang Terbuka

Minggu, 26 April 2020 - 03:58 WIB
Ilustrasi
ANKARA - Ketika para pemimpin dunia menuduh China menutupi wabah virus Corona, sebelum tumbuh menjadi pandemi global, seorang pakar memperingatkan bahwa ketegangan itu dapat meningkat menjadi perang panas. Ini terutama antara China dengan Amerika Serikat (AS).

"Epidemi bisa dihentikan lebih awal jika Cina telah memberikan informasi untuk menghentikan virus pada sumbernya," ucap Mesut Hakki Casin, seorang profesor hukum di Universitas Yeditepe Istanbul, seperti dilansir Anadolu Agency.

Menurut Casin, suatu hari China mungkin menghadapi dakwaan di pengadilan internasional untuk penyebaran Covid-19 dan laporannya yang terlambat tentang kasus-kasus pertama di Wuhan.

Dalam sebuah wawancara dengan harian Jerman Bild, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengisyaratkan bahwa Cina yang harus disalahkan atas kerusakan yang ditimbulkan oleh virus di seluruh dunia. “Akan ada waktu ketika orang yang bertanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban. Saya sangat yakin ini akan terjadi, ”kata Pompeo.

“Saat ini, sangat penting untuk fokus pada tugas untuk memulai kembali secara sistematis Amerika, dan kemudian juga ekonomi global. Akan ada waktu untuk menyalahkan," sambungnya.



Pompeo bukan satu-satunya pemimpin dunia dengan China di garis bidiknya. Presiden AS, Donald Trump bersikeras mendeskripsikan Covid-19 sebagai “virus China,” meskipun ada kritik yang menyebut label itu rasis.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron juga mempertanyakan penanganan China terhadap wabah itu, dengan mengatakan itu naif untuk menyarankan bahwa ia telah menangani krisis dengan baik.

Casin mengatakan ia memperkirakan adanya ketegangan lebih lanjut antara Washington dan Beijing, terutama setelah pernyataan Pompeo.

"Adapun aspek militer dari masalah ini, AS memiliki kekuatan militer terbesar di dunia dengan pengeluaran pertahanan tahunan sebesar USD 700 miliar. China telah meningkatkan pengeluaran pertahanannya menjadi USD 181 miliar, nomor dua setelah AS," ucapnya.
Dapatkan berita terbaru, follow WhatsApp Channel SINDOnews sekarang juga!
Halaman :
tulis komentar anda
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More