Erdogan Sebut Swedia Sarang Teroris, Ancam Veto Upaya Gabung NATO
Kamis, 19 Mei 2022 - 18:01 WIB
Dia menunjuk secara khusus dugaan kehadiran organisasi PKK dan YPG, partai politik dan pasukan milisi Kurdi Turki dan Suriah yang oleh Ankara diklasifikasikan sebagai kelompok teroris di negara-negara Nordik.
"Ini adalah negara-negara yang mendorong sumber terorisme di negara saya, yang memberi mereka dukungan akhir dan senjata yang serius," ungkap Erdogan.
Presiden Turki juga mengomentari hal-hal lain, termasuk krisis di Ukraina dan ketergantungan Turki pada energi Rusia.
“Ankara tidak dapat menolak pasokan gas Rusia,” papar Erdogan, menyebut masalah itu sebagai "masalah strategis."
“Kami memiliki hubungan dengan kedua belah pihak (Rusia dan Ukraina). Kami memiliki proyek pembangkit listrik tenaga nuklir Akkuyu dengan Rusia. Kami akan menyelesaikan proyek ini dan membukanya tahun depan. Ini adalah sumber energi yang sangat serius bagi kami. Kami mendapatkan 50 persen dari gas yang kami konsumsi dari Rusia. Ini adalah masalah strategis, hubungan strategis. Kami tidak dapat mengabaikan atau menghancurkannya," ujar dia.
Erdogan mengatakan dia akan melanjutkan "diplomasi telepon" dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Zelensky.
Dia menyatakan, "Tidak berniat memutuskan hubungan dengan salah satu pemimpin. Kami akan melanjutkan kebijakan kami; perang dunia baru tidak menguntungkan siapa pun."
Erdogan dan pejabat Turki lainnya telah menghabiskan sepekan terakhir mengancam untuk memblokir tawaran NATO untuk Swedia dan Finlandia atau menahan mereka secara permanen di "ruang tunggu" aliansi.
Turki mengutip dugaan dukungan dua negara itu untuk otonomi dan pasukan pencari kemerdekaan Kurdi.
"Ini adalah negara-negara yang mendorong sumber terorisme di negara saya, yang memberi mereka dukungan akhir dan senjata yang serius," ungkap Erdogan.
Presiden Turki juga mengomentari hal-hal lain, termasuk krisis di Ukraina dan ketergantungan Turki pada energi Rusia.
“Ankara tidak dapat menolak pasokan gas Rusia,” papar Erdogan, menyebut masalah itu sebagai "masalah strategis."
“Kami memiliki hubungan dengan kedua belah pihak (Rusia dan Ukraina). Kami memiliki proyek pembangkit listrik tenaga nuklir Akkuyu dengan Rusia. Kami akan menyelesaikan proyek ini dan membukanya tahun depan. Ini adalah sumber energi yang sangat serius bagi kami. Kami mendapatkan 50 persen dari gas yang kami konsumsi dari Rusia. Ini adalah masalah strategis, hubungan strategis. Kami tidak dapat mengabaikan atau menghancurkannya," ujar dia.
Erdogan mengatakan dia akan melanjutkan "diplomasi telepon" dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Zelensky.
Dia menyatakan, "Tidak berniat memutuskan hubungan dengan salah satu pemimpin. Kami akan melanjutkan kebijakan kami; perang dunia baru tidak menguntungkan siapa pun."
Erdogan dan pejabat Turki lainnya telah menghabiskan sepekan terakhir mengancam untuk memblokir tawaran NATO untuk Swedia dan Finlandia atau menahan mereka secara permanen di "ruang tunggu" aliansi.
Turki mengutip dugaan dukungan dua negara itu untuk otonomi dan pasukan pencari kemerdekaan Kurdi.
Lihat Juga :