Pemimpin Austria Gelar Pembicaraan Terbuka dan Keras dengan Putin
Senin, 11 April 2022 - 23:47 WIB
Dia menambahkan bahwa pesan terpentingnya kepada Putin adalah bahwa perang di Ukraina harus diakhiri, karena "dalam perang hanya ada yang kalah di kedua belah pihak".
Seorang juru bicara Nehammer mengatakan pada Senin sore, bahwa pertemuan itu berlangsung di kediaman resmi Novo-Ogaryovo Putin di luar Moskow. Media Austria termasuk surat kabar Kronen Zeitung mengatakan, pertemuan itu berlangsung selama sekitar 90 menit.
Nehammer telah menyatakan solidaritas dengan Ukraina atas invasi Rusia. Ia mengecam jelas kejahatan perang Rusia di sana, sementara pemerintahnya telah bergabung dengan negara-negara Uni Eropa lainnya dalam mengusir diplomat Rusia, meskipun hanya sebagian kecil dari kehadiran diplomatik besar Rusia di sana.
Baca: Putin Dikelilingi Ajudan dengan Koper Nuklir, Ini Penampakannya
"Mari berharap ada lebih banyak kunjungan kanselir Austria #Nehammer ke Putin daripada yang telah dikatakan dan terlihat. Austria terlalu sering berperan sebagai orang bodoh Moskow yang berguna di masa lalu," profesor perbandingan politik Austria di Universitas Salzburg Reinhard Heinisch menulis di Twitter, seperti dikutip dari Reuters.
Seorang juru bicara Nehammer mengatakan pada Senin sore, bahwa pertemuan itu berlangsung di kediaman resmi Novo-Ogaryovo Putin di luar Moskow. Media Austria termasuk surat kabar Kronen Zeitung mengatakan, pertemuan itu berlangsung selama sekitar 90 menit.
Nehammer telah menyatakan solidaritas dengan Ukraina atas invasi Rusia. Ia mengecam jelas kejahatan perang Rusia di sana, sementara pemerintahnya telah bergabung dengan negara-negara Uni Eropa lainnya dalam mengusir diplomat Rusia, meskipun hanya sebagian kecil dari kehadiran diplomatik besar Rusia di sana.
Baca: Putin Dikelilingi Ajudan dengan Koper Nuklir, Ini Penampakannya
"Mari berharap ada lebih banyak kunjungan kanselir Austria #Nehammer ke Putin daripada yang telah dikatakan dan terlihat. Austria terlalu sering berperan sebagai orang bodoh Moskow yang berguna di masa lalu," profesor perbandingan politik Austria di Universitas Salzburg Reinhard Heinisch menulis di Twitter, seperti dikutip dari Reuters.
Lihat Juga :