Arab Saudi Tahan Cendekiawan Muslim Uighur, Dikhawatirkan Akan Dideportasi ke China

Selasa, 11 Januari 2022 - 15:39 WIB
"Sudah cukup buruk bahwa Arab Saudi tidak mau mengkritik serangan pemerintah China terhadap Islam. Tapi itu adalah penolakan yang mengejutkan terhadap hukum internasional untuk mengembalikan mereka secara paksa."

Wang menambahkan bahwa pihak keluarga telah memberi tahu dia bahwa pejabat kehakiman juga bertanya kepada Waili dan warga Uighur lainnya yang ditahan apakah mereka tahu nama-nama warga Uighur lainnya di Arab Saudi.

Kemungkinan deportasi Waili terjadi beberapa bulan setelah pengadilan Maroko menyetujui ekstradisi seorang aktivis Uighur setelah Beijing mengajukan surat perintah penangkapannya melalui Interpol.

Yidiresi Aishan, ayah tiga anak berusia 34 tahun dengan status tinggal di Turki, ditahan oleh polisi Maroko di Rabat setelah melarikan diri ke negara Afrika Utara tersebut.

Masih belum jelas mengapa Maroko menyetujui ekstradisi Aishan setelah Interpol membatalkan surat perintah penangkapan "red notice" yang dikeluarkan terhadapnya.

Interpol membatalkan "red notice" pada Agustus setelah sekretariat jenderalnya menerima informasi baru tentang Aishan.

Pada Oktober 2020, BBC melaporkan bahwa Arab Saudi dan negara-negara mayoritas muslim lainnya, termasuk Mesir dan Uni Emirat Arab, telah bekerja sama dengan Beijing untuk mendeportasi warga Uighur kembali ke China.

Pada 2019, dokumen China yang bocor ke New York Times menunjukkan bagaimana China mengelola kamp pendidikan ulang dan pengawasan massal terhadap populasi Uighur di provinsi Xingjiang.

Kutipan dari dokumen tersebut menunjukkan bagaimana China mengidentifikasi hampir 6.000 warga Uighur yang berada di luar negeri atau memiliki surat-surat untuk bepergian untuk dipantau oleh otoritas China.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!