Eks Bos Intelijen Militer: Israel Harus Berpikir 2 Kali Sebelum Serang Iran
Jum'at, 26 November 2021 - 20:45 WIB
Berbicara di panel yang sama, mantan kepala Mossad Amos Yadlin mengatakan selama dekade terakhir, kebijakan Tel Aviv pada program nuklir Iran diputuskan secara pribadi oleh mantan perdana menteri Benjamin Netanyahu tanpa konsultasi.
"Masalah Iran diprivatisasi untuk satu orang," kata Yadlin, menambahkan bahwa kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan enam negara lain, termasuk Amerika Serikat (AS), membuat Iran tidak membuat kemajuan berarti dalam program nuklirnya.
“Kesalahannya bukan pada 2015, tetapi pada 2018 ketika mereka (Amerika Serikat) meninggalkan kesepakatan di tahun-tahun yang baik,” tambahnya.
Negosiasi untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 akan dimulai kembali pekan depan. Dalam perjanjian nuklir 2015, Iran setuju mengekang program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi internasional. Perundingan akan dilanjutkan di Wina pada Senin depan, setelah jeda lima bulan.
Baca juga: Israel Tebar Ancaman, Siap Hadapi Iran di Semua Lini
"Masalah Iran diprivatisasi untuk satu orang," kata Yadlin, menambahkan bahwa kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan enam negara lain, termasuk Amerika Serikat (AS), membuat Iran tidak membuat kemajuan berarti dalam program nuklirnya.
“Kesalahannya bukan pada 2015, tetapi pada 2018 ketika mereka (Amerika Serikat) meninggalkan kesepakatan di tahun-tahun yang baik,” tambahnya.
Negosiasi untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 akan dimulai kembali pekan depan. Dalam perjanjian nuklir 2015, Iran setuju mengekang program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi internasional. Perundingan akan dilanjutkan di Wina pada Senin depan, setelah jeda lima bulan.
Baca juga: Israel Tebar Ancaman, Siap Hadapi Iran di Semua Lini
Lihat Juga :