Selasa, Singapura Putuskan Nasib Penyandang Cacat Mental Asal Malaysia
Jum'at, 26 November 2021 - 17:05 WIB
Pakar hukum – termasuk Anti-Death Penalty Asia Network dan Amnesty International – menyebut eksekusi seorang pria cacat intelektual tidak manusiawi dan melanggar hukum internasional serta Konstitusi Singapura.
Pemimpin Malaysia, anggota masyarakat internasional, perwakilan Uni Eropa dan tokoh global seperti raja bisnis Inggris Richard Branson juga menyerukan agar nyawa Nagaenthran diselamatkan, dan menggunakan kasus ini untuk menarik perhatian ke arah advokasi anti hukuman mati.
Baca juga: Surat PM Malaysia Tak Digubris, Singapura Tetap Akan Gantung Pria Penderita Cacat Mental
Kementerian Dalam Negeri Singapura mengatakan sebagai tanggapan bahwa negara itu mengambil sikap nol toleransi terhadap obat-obatan terlarang dan bahwa hukuman mati telah diperjelas di perbatasannya.
Siapa pun yang ditemukan dengan lebih dari 15 gram heroin menghadapi hukuman mati di Singapura, meskipun hakim dapat menguranginya menjadi penjara seumur hidup atas kebijaksanaan mereka sendiri. Eksekusi terakhir di Singapura terjadi pada 2019.
Pemimpin Malaysia, anggota masyarakat internasional, perwakilan Uni Eropa dan tokoh global seperti raja bisnis Inggris Richard Branson juga menyerukan agar nyawa Nagaenthran diselamatkan, dan menggunakan kasus ini untuk menarik perhatian ke arah advokasi anti hukuman mati.
Baca juga: Surat PM Malaysia Tak Digubris, Singapura Tetap Akan Gantung Pria Penderita Cacat Mental
Kementerian Dalam Negeri Singapura mengatakan sebagai tanggapan bahwa negara itu mengambil sikap nol toleransi terhadap obat-obatan terlarang dan bahwa hukuman mati telah diperjelas di perbatasannya.
Siapa pun yang ditemukan dengan lebih dari 15 gram heroin menghadapi hukuman mati di Singapura, meskipun hakim dapat menguranginya menjadi penjara seumur hidup atas kebijaksanaan mereka sendiri. Eksekusi terakhir di Singapura terjadi pada 2019.
(ian)
Lihat Juga :