Korut: Kuba Bisa Hancurkan Intervensi AS

Sabtu, 17 Juli 2021 - 15:19 WIB
Meskipun pernyataan itu tidak menyebutkan nama AS, namun pernyataan itu jelas merujuk pada embargo Washington terhadap Havana di masa lalu.

Sejak menjabat pada Januari lalu, Presiden Joe Biden telah berusaha untuk meninjau kebijakan AS terhadap Kuba dan Korut, yang mengalami perubahan drastis selama pemerintahan dua presiden terakhir.

Mantan Presiden Barack Obama, yang mana Biden menjabat sebagai wakil presidennya, memprakarsai pencairan hubungan bersejarah dengan Kuba, termasuk pelonggaran embargo selama beberapa dekade. Sedangkan penggantinya, Presiden Donald Trump membalikkan langkah-langkah ini dan malah mengejar diplomasi penting dengan Korut, meskipun upaya menuju kesepakatan denuklirisasi untuk perdamaian dan bantuan sanksi akhirnya terhenti.

Pemerintahan Biden telah meningkatkan kemungkinan menawarkan dukungan kepada kedua negara saat mereka menghadapi prospek ekonomi yang memburuk akibat pandemi. Namun, ketika menyangkut Kuba, tinjauan kebijakan yang sedang berlangsung telah diperumit oleh letusan protes langka baru-baru ini yang dimanfaatkan Washington untuk memilih untuk mengkritik Havana.

Pernyataan Biden pada Jumat kemarin menandai apa yang disebut Gedung Putih sebagai "Pekan Captive Nations" tidak menyebutkan Korut, tetapi menargetkan Kuba bersama dengan Belarus, China, Myanmar dan Rusia.

Baca juga: AS Didesak Membom Negara Komunis Kuba

“Kami mendengar tekad mereka yang menolak kekuasaan militer di Burma, menentang kediktatoran di Venezuela, turun ke jalan di Kuba untuk menuntut kebebasan dalam menghadapi penindasan negara yang brutal, dan mendesak untuk pemilihan umum yang bebas dan adil di Nikaragua—serta Tatar Krimea, etnis Ukraina, dan etnis dan agama minoritas lainnya yang mengalami penindasan karena menentang pendudukan ilegal Rusia di Krimea," bunyi pernyataan itu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!