Polisi Myanmar Peringatkan Demonstran Bubar atau Hadapi Kekerasan

Selasa, 09 Februari 2021 - 00:01 WIB
Unjuk rasa berlangsung baik dan sebagian besar damai, tidak seperti tindakan keras berdarah terhadap protes sebelumnya, khususnya pada 1988 dan 2007.

Ribuan orang juga berunjuk rasa di kota tenggara Dawei dan di ibu kota negara bagian Kachin di ujung utara.

Kerumunan massa yang besar mencerminkan penolakan terhadap junta militer oleh berbagai kelompok etnis, bahkan mereka yang telah mengkritik Suu Kyi dan menuduh pemerintahnya mengabaikan minoritas.

Di Yangon, sekelompok biksu berjubah oranye, yang memiliki sejarah menggalang aksi komunitas di negara yang mayoritas beragama Buddha, berbaris di barisan depan protes dengan para pekerja dan pelajar.

Para biksu mengibarkan bendera Buddha warna-warni di samping spanduk merah dengan warna Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin Suu Kyi.

NLD menang pemilu November tapi militer menolak kemenangan itu dengan dalih terjadi kecurangan.

"Bebaskan Pemimpin Kami, Hormati Suara Kami, Tolak Kudeta Militer," ungkap salah satu spanduk.

Protes tersebut adalah yang terbesar sejak "Revolusi Safron" yang dipimpin para biksu pada 2007, yang menyebabkan penarikan bertahap militer dari politik setelah beberapa dekade pemerintahan junta.

Namun era pemerintahan sipil yang dipimpin Suu Kyi itu tiba-tiba terhenti secara mengejutkan oleh kudeta militer pada 1 Februari lalu.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!