Protes Kudeta Militer Myanmar, Ribuan Orang Padati Jalan-jalan Yangon

Sabtu, 06 Februari 2021 - 14:40 WIB
Baca juga: Pemimpin Pemberontak: Kudeta Militer Mengancam Nasib Gencatan Senjata Myanmar

Permintaan VPN telah melonjak di Myanmar, yang memungkinkan beberapa orang menghindari larangan tersebut. Namun, pengguna internet melaporkan gangguan yang lebih umum pada layanan data seluler, yang diandalkan oleh sebagian besar orang di negara berpenduduk 53 juta itu untuk berita dan komunikasi.

“Kami kehilangan kebebasan, keadilan dan sangat membutuhkan demokrasi,” tulis seorang pengguna Twitter. "Tolong dengarkan suara Myanmar."

Baca juga : Kekalahan Mayweather dari Logan Paul Merusak Reputasinya

Panglima Militer Jenderal Min Aung Hlaing merebut kekuasaan dengan menuduh pemilu 8 November yang dimenangkan NLD secara telak diwarnai kecurangan. Komisi pemilu menepis tuduhan militer.

Militer mengumumkan keadaan darurat satu tahun dan berjanji akan menyerahkan kekuasaan setelah pemilu baru, tanpa memberikan kerangka waktu.

Baca juga : MMA Gempar! Pendekar Silat Muslim Meng-KO Petarung MMA di Amerika

Pengambilalihan kekuasaan tersebut mengundang kecaman internasional, di mana Dewan Keamanan PBB menyerukan untuk pembebasan semua tahanan. Sedangkan Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi terhadap militer Myanmar.

Suu Kyi, 75, tidak terlihat di depan umum sejak kudeta. Dia pernah menghabiskan sekitar 15 tahun dalam tahanan rumah selama perjuangan melawan junta di masa lalu sebelum transisi demokrasi yang bermasalah dimulai pada 2011.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!