Jadi Anak Presiden dan Jabat Panglima Militer, Jenderal Ini Seenaknya Menutup Media
Jum'at, 03 Juli 2026 - 11:30 WIB
Oposisi Juga Terkepung
Partai-partai oposisi berulang kali mengkritik kebijakan represif pemerintah. Mereka menghadapi tekanan dan menjadi sasaran penangkapan sewenang-wenang, penculikan, dan tuduhan bermotivasi politik, menurut para pengamat politik.
"Kami yakin bahwa Uganda harus diperintah sesuai dengan konstitusi dan prinsip-prinsip supremasi hukum," kata Lulume Bayiga, wakil pemimpin Front Rakyat untuk Kebebasan (PFF), kepada DW, saat dia mengomentari pernyataan komisi tersebut. "Ini adalah badan yang harus bertanggung jawab atas penutupan media tersebut."
Namun, menurut pengacara HAM Cathy Anite, lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas tata kelola media di Uganda telah mundur. "Sangat jelas bahwa negara mengabaikan hak dan hukum terkait kebebasan media," katanya kepada DW.
Anite adalah anggota Panel Pakar Hukum Tingkat Tinggi Independen tentang Kebebasan Media dan pendiri Freedom of Expression Hub di Uganda. "Menurut saya, semua pembatasan media, termasuk penutupan media, harus diatur dalam undang-undang dan memiliki tujuan yang sah," katanya.
"Saat ini kita menyaksikan erosi kebebasan media dan pengabaian terang-terangan terhadap standar kebijakan yang mengatur pers bebas," kata Anite, menambahkan bahwa kepemimpinan politik Uganda telah menciptakan lingkungan yang agak kompleks dan kontradiktif yang telah mengaburkan batas antara jaminan konstitusional, pembatasan hukum, dan kebebasan media.
"Penutupan sewenang-wenang ini akan berdampak buruk pada kebebasan media dan kebebasan berekspresi warga negara di negara ini, serta akan menghambat akuntabilitas dan supremasi hukum," imbuh dia. "Media memiliki mandat untuk mengkritik negara."
Para jurnalis merasa frustrasi dengan pembatasan kebebasan pers di negara ini. "Kami takut untuk mengungkapkan pendapat kami dan melakukan pekerjaan kami dengan bebas," kata seorang jurnalis kepada DW.
"Dalam profesi media ini, merupakan pukulan berat dan kejutan besar ketika Anda tidak dapat berbicara bebas atau berpikir tanpa rasa takut," katanya.
(mas)
Lihat Juga :