Dari Media hingga Kampus, Pengaruh China di Albania Kian Meluas
Jum'at, 22 Mei 2026 - 09:57 WIB
Salah satu contohnya adalah ketika Rama mengundang perwakilan Kedutaan Besar China dan mahasiswa China dalam podcast pribadinya untuk mempromosikan terjemahan bahasa Albania buku The New China Playbook.
“Dia bahkan menyebut mereka sebagai perwakilan dari ‘China baru’ dan mengaitkannya dengan fase baru hubungan Albania-China,” kata Bino.
Meski demikian, dia menilai pendekatan China di Albania tetap dilakukan secara hati-hati dan tidak konfrontatif.
“China tidak memosisikan dirinya melawan tujuan strategis Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa,” ujarnya.
Narasi utama Beijing, menurut Bino, lebih berfokus pada citra China sebagai negara sukses, stabil, dan mitra global yang menawarkan kerja sama tanpa syarat politik.
Model tersebut secara implisit dibandingkan dengan pendekatan Uni Eropa yang lebih menekankan demokrasi, hak asasi manusia, dan tata kelola pemerintahan.
Bino memperingatkan paparan jangka panjang terhadap narasi tersebut dapat memengaruhi persepsi publik mengenai demokrasi dan sistem politik.
“Secara bertahap, hal ini dapat menormalisasi model politik China sebagai alternatif yang sah,” katanya.
Dia menambahkan, ketidakpuasan sebagian warga Albania terhadap proses transisi demokrasi setelah era komunisme menciptakan ruang bagi narasi alternatif tersebut berkembang.
Menurutnya, kondisi itu berpotensi memengaruhi cara masyarakat memandang nilai-nilai demokrasi, kebebasan berekspresi, hingga tata kelola digital dan kecerdasan buatan.
“Paparan terhadap narasi alternatif ini dapat secara halus mengubah cara nilai-nilai tersebut dipersepsikan atau diprioritaskan,” ujar Bino.
“Dia bahkan menyebut mereka sebagai perwakilan dari ‘China baru’ dan mengaitkannya dengan fase baru hubungan Albania-China,” kata Bino.
Meski demikian, dia menilai pendekatan China di Albania tetap dilakukan secara hati-hati dan tidak konfrontatif.
“China tidak memosisikan dirinya melawan tujuan strategis Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa,” ujarnya.
Narasi Alternatif
Narasi utama Beijing, menurut Bino, lebih berfokus pada citra China sebagai negara sukses, stabil, dan mitra global yang menawarkan kerja sama tanpa syarat politik.
Model tersebut secara implisit dibandingkan dengan pendekatan Uni Eropa yang lebih menekankan demokrasi, hak asasi manusia, dan tata kelola pemerintahan.
Bino memperingatkan paparan jangka panjang terhadap narasi tersebut dapat memengaruhi persepsi publik mengenai demokrasi dan sistem politik.
“Secara bertahap, hal ini dapat menormalisasi model politik China sebagai alternatif yang sah,” katanya.
Dia menambahkan, ketidakpuasan sebagian warga Albania terhadap proses transisi demokrasi setelah era komunisme menciptakan ruang bagi narasi alternatif tersebut berkembang.
Menurutnya, kondisi itu berpotensi memengaruhi cara masyarakat memandang nilai-nilai demokrasi, kebebasan berekspresi, hingga tata kelola digital dan kecerdasan buatan.
“Paparan terhadap narasi alternatif ini dapat secara halus mengubah cara nilai-nilai tersebut dipersepsikan atau diprioritaskan,” ujar Bino.
(mas)
Lihat Juga :