Siapa Jimmy Lai? Taipan Pro-demokrasi Hong Kong yang Divonis 20 Tahun Penjara
Selasa, 10 Februari 2026 - 12:44 WIB
"Saya adalah pemberontak sejak lahir," katanya kepada BBC dalam sebuah wawancara pada tahun 2020, beberapa jam sebelum ia didakwa. "Saya memiliki karakter yang sangat pemberontak."
Baca Juga: Israel Akan Caplok Tepi Barat, Ini 4 Bentuk Perlawanan Hamas
Ia berusia 12 tahun ketika melarikan diri dari desanya di China daratan, tiba di Hong Kong sebagai penumpang gelap di kapal nelayan.
Sambil bekerja serabutan dan merajut di toko pakaian kecil, ia belajar bahasa Inggris sendiri. Ia beralih dari peran rendahan hingga akhirnya mendirikan kerajaan bernilai jutaan dolar termasuk merek pakaian internasional Giordano.
Rantai toko tersebut sangat sukses. Tetapi ketika China mengirimkan tank untuk menumpas protes pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen Beijing pada tahun 1989, Lai memulai perjalanan baru sebagai aktivis demokrasi yang vokal serta seorang pengusaha.
Ia mulai menulis kolom yang mengkritik pembantaian yang terjadi setelah demonstrasi di Beijing dan mendirikan sebuah penerbitan yang kemudian menjadi salah satu yang paling berpengaruh di Hong Kong.
Ketika China menanggapi dengan mengancam akan menutup toko-tokonya di daratan China, yang menyebabkan ia menjual perusahaannya, Lai meluncurkan serangkaian judul pro-demokrasi populer yang termasuk Next, sebuah majalah digital, dan surat kabar Apple Daily yang banyak dibaca.
Dalam lanskap media lokal yang semakin takut terhadap Beijing, Lai telah menjadi kritikus yang gigih terhadap otoritas Tiongkok baik melalui publikasi maupun tulisannya.
Hal ini membuatnya menjadi pahlawan bagi banyak orang di Hong Kong, yang memandangnya sebagai seorang pria pemberani yang mengambil risiko besar untuk membela kebebasan kota tersebut.
Baca Juga: Israel Akan Caplok Tepi Barat, Ini 4 Bentuk Perlawanan Hamas
3. Lahir dari Keluarga Miskin
Lai lahir di Guangzhou, sebuah kota di China selatan, dari keluarga kaya yang kehilangan segalanya ketika komunis berkuasa pada tahun 1949.Ia berusia 12 tahun ketika melarikan diri dari desanya di China daratan, tiba di Hong Kong sebagai penumpang gelap di kapal nelayan.
Sambil bekerja serabutan dan merajut di toko pakaian kecil, ia belajar bahasa Inggris sendiri. Ia beralih dari peran rendahan hingga akhirnya mendirikan kerajaan bernilai jutaan dolar termasuk merek pakaian internasional Giordano.
Rantai toko tersebut sangat sukses. Tetapi ketika China mengirimkan tank untuk menumpas protes pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen Beijing pada tahun 1989, Lai memulai perjalanan baru sebagai aktivis demokrasi yang vokal serta seorang pengusaha.
Ia mulai menulis kolom yang mengkritik pembantaian yang terjadi setelah demonstrasi di Beijing dan mendirikan sebuah penerbitan yang kemudian menjadi salah satu yang paling berpengaruh di Hong Kong.
Ketika China menanggapi dengan mengancam akan menutup toko-tokonya di daratan China, yang menyebabkan ia menjual perusahaannya, Lai meluncurkan serangkaian judul pro-demokrasi populer yang termasuk Next, sebuah majalah digital, dan surat kabar Apple Daily yang banyak dibaca.
Dalam lanskap media lokal yang semakin takut terhadap Beijing, Lai telah menjadi kritikus yang gigih terhadap otoritas Tiongkok baik melalui publikasi maupun tulisannya.
Hal ini membuatnya menjadi pahlawan bagi banyak orang di Hong Kong, yang memandangnya sebagai seorang pria pemberani yang mengambil risiko besar untuk membela kebebasan kota tersebut.
4. Dijuliki Pengkhianat oleh China
Namun di daratan China, ia dipandang sebagai "pengkhianat" yang mengancam keamanan nasional China.Lihat Juga :