Demo Kemarahan Iran Tak Kunjung Reda, Ini 4 Hal Penting yang Perlu Diketahui

Minggu, 11 Januari 2026 - 11:08 WIB
Presiden Masoud Pezeshkian telah mengakui apa yang disebutnya sebagai keluhan publik yang "sah". Dia menunjuk kepala bank sentral yang baru dan mengatakan bahwa "segala bentuk kekerasan dan pemaksaan" harus dihindari.

Namun, para pejabat Iran telah memperkeras pendirian mereka dalam beberapa hari terakhir, menggemakan putaran kerusuhan sebelumnya ketika pihak berwenang menggunakan penangkapan massal dan kekerasan untuk menekan demonstrasi.

Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad memperingatkan pada hari Sabtu dalam komentar yang disiarkan oleh media pemerintah Iran bahwa proses hukum terhadap para perusuh harus "tanpa keringanan, belas kasihan, atau pengampunan." Dia memperingatkan bahwa "semua penjahat yang terlibat" akan dianggap sebagai "musuh Tuhan", sebuah tuduhan yang dapat dihukum mati di Iran.

4. Bagaimana Reaksi AS dan Israel?

Pemerintah Iran melemah di panggung internasional dan menghadapi ketakutan yang menggerogoti banyak warga Iran akan serangan militer AS atau Israel putaran berikutnya.

Para pejabat Israel telah berbicara atas nama para demonstran, dan Trump mengatakan bulan ini bahwa Amerika Serikat "siap siaga dan siap bertindak" jika pemerintah Iran menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran.

Namun Trump—yang telah menggembar-gemborkan kemampuannya untuk menggunakan kekuatan militer untuk menyerang atau memaksa negara-negara lain—bersikap mengelak pada hari Kamis ketika ditanya apakah dia bermaksud untuk memaksa perubahan rezim di Iran.

"Saya tidak ingin mengatakannya, tetapi saya akan memberi tahu Anda bahwa mereka tidak baik-baik saja," kata Trump, merujuk pada pemerintah Iran, dalam sebuah wawancara di acara bincang-bincang.

Para pejabat Iran mengatakan bahwa mereka akan bereaksi terhadap campur tangan apa pun dari Amerika Serikat, termasuk dengan berpotensi menargetkan pangkalan dan pasukan Amerika di Timur Tengah.

Demo kemarahan di Iran ikut menyeret Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan, untuk bereaksi. Dalam sebuah video pada hari Sabtu, Pahlavi yang tinggal di AS telah mendesak warga Iran untuk menghadiri protes malam hari selama akhir pekan dan menyerukan para pekerja di sektor-sektor kunci seperti minyak dan gas untuk melakukan mogok kerja.

Rekaman dari tanggal 9 Januari yang telah diverifikasi oleh The New York Times menunjukkan kerumunan demonstran berkumpul di Punak, Teheran, meneriakkan, “Ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali.” Namun, beberapa pakar mempertanyakan sejauh mana dukungan untuk Pahlavi di Iran.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!