Kunjungan Xi Jinping ke Xinjiang Tuai Sorotan, Apa yang Terjadi?
Kamis, 02 Oktober 2025 - 08:51 WIB
“Orang-orang tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi di tingkat desa, tempat banyak kebijakan penghapusan budaya diterapkan,” ucapnya.
Akses bagi peneliti independen juga semakin dibatasi. “Akses praktisnya sudah tertutup,” ujar Grose, menambahkan bahwa peneliti asing hanya mendapat tur resmi yang terkelola ketat tanpa peluang nyata menyelidiki kondisi.
Meski represi berlangsung di dalam negeri, komunitas diaspora Uighur tetap berupaya mempertahankan identitas mereka. Di berbagai belahan dunia, komunitas ini mendirikan pusat budaya, menerbitkan buku, serta mengorganisasi pendidikan bahasa dan agama bagi generasi muda.
Aziz Isa Elkun termasuk salah satu suara tersebut. Kini menjadi peneliti di SOAS University of London, ia terus menulis puisi tentang tanah kelahirannya dan bersuara di ruang publik, meskipun polisi China kerap mengganggu keluarganya yang masih tinggal di Xinjiang.
“Saya tahu harganya sangat berat, tapi saya tidak bisa diam,” kata Elkun.
“Uighur di pengasingan harus mengatakan kebenaran tentang apa yang terjadi pada rakyat kami. Saya percaya keadilan pada akhirnya akan menang, tidak peduli berapa banyak tarian panggung yang diperlihatkan Beijing kepada dunia,” pungkasnya.
Akses bagi peneliti independen juga semakin dibatasi. “Akses praktisnya sudah tertutup,” ujar Grose, menambahkan bahwa peneliti asing hanya mendapat tur resmi yang terkelola ketat tanpa peluang nyata menyelidiki kondisi.
Suara Diaspora Terus Bergema
Meski represi berlangsung di dalam negeri, komunitas diaspora Uighur tetap berupaya mempertahankan identitas mereka. Di berbagai belahan dunia, komunitas ini mendirikan pusat budaya, menerbitkan buku, serta mengorganisasi pendidikan bahasa dan agama bagi generasi muda.
Aziz Isa Elkun termasuk salah satu suara tersebut. Kini menjadi peneliti di SOAS University of London, ia terus menulis puisi tentang tanah kelahirannya dan bersuara di ruang publik, meskipun polisi China kerap mengganggu keluarganya yang masih tinggal di Xinjiang.
“Saya tahu harganya sangat berat, tapi saya tidak bisa diam,” kata Elkun.
“Uighur di pengasingan harus mengatakan kebenaran tentang apa yang terjadi pada rakyat kami. Saya percaya keadilan pada akhirnya akan menang, tidak peduli berapa banyak tarian panggung yang diperlihatkan Beijing kepada dunia,” pungkasnya.
(mas)
Lihat Juga :