8 Kesamaan Ibrahim Traore dengan Muammar Gaddafi yang Ditakuti Barat
Jum'at, 20 Juni 2025 - 17:15 WIB
Ia membentuk pemerintahan baru dengan ideologi yang diklaim berdasarkan sosialisme Islam dan demokrasi rakyat, meskipun dalam praktiknya kekuasaan sangat tersentralisasi pada dirinya.
Traoré naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta militer pada 2022, menggulingkan Presiden Paul-Henri Damiba.
Ia digambarkan sebagai sosok sederhana, dekat dengan rakyat, dan menyebut pemerintahannya sebagai lanjutan dari revolusi Thomas Sankara, pahlawan revolusioner Burkina Faso yang juga pernah menggulingkan kekuasaan korup dan pro-Barat.
Seperti Gaddafi, ia menggunakan bahasa revolusioner untuk memberi legitimasi pada kekuasaannya.
Gaddafi dikenal dengan penampilan nyentrik, pidato retoris yang membakar semangat, serta pemanfaatan simbol-simbol budaya dan keagamaan untuk mengukuhkan citra dirinya sebagai pemimpin revolusioner sejati.
Ia menolak tinggal di istana, lebih memilih tenda Bedouin sebagai simbol kesederhanaan dan keterikatan pada akar rakyatnya.
Ia juga membangun personifikasi sebagai “Raja Raja Afrika” dan pemimpin moral dunia Islam-Afrika.
Traoré tampil sebagai sosok karismatik dalam balutan pakaian militer dan senyum yang jarang pudar. Ia sering terlihat berada di antara pasukan garis depan melawan kelompok teroris, dan menggunakan gaya komunikasi yang sederhana namun tegas.
Ia juga menjadikan simbol-simbol lokal seperti kerajinan dan bendera tradisional dalam pertemuan politik untuk menunjukkan keterikatannya dengan budaya asli rakyatnya.
Gaddafi mengambil langkah tegas dalam nasionalisasi sumber daya Libya, khususnya minyak, yang sebelumnya dikendalikan perusahaan-perusahaan asing.
Dengan pendapatan minyak, ia membiayai program sosial, kesehatan, pendidikan, serta mendukung pembangunan di negara-negara Afrika lainnya.
Ini menjadikan Libya sebagai salah satu negara dengan tingkat pembangunan manusia terbaik di Afrika sebelum tahun 2011.
Traoré, dengan sumber daya emas dan logam langka di Burkina Faso, juga mulai mendorong kebijakan serupa.
Ia mengusulkan agar perusahaan tambang asing diregulasi lebih ketat, dan sebagian kontraknya ditinjau ulang.
Ia menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi dan pembagian hasil sumber daya secara adil, khususnya untuk mendanai pendidikan dan sektor pertanian rakyat kecil.
Gaddafi dan Traoré sama-sama memosisikan diri sebagai anti-elit, anti-korupsi, dan wakil dari rakyat kecil.
Gaddafi dalam Green Book-nya menolak demokrasi parlementer gaya Barat, menyebutnya sebagai bentuk tirani elit, dan mengusulkan sistem komite rakyat.
Traoré menyerukan pembaruan struktural dalam pemerintahan Burkina Faso, menolak pengaruh elite politik lama, dan mengangkat perwira muda dan aktivis sipil ke dalam sistem kekuasaan.
Keduanya juga mengkritik sistem internasional yang menurut mereka hanya melayani negara-negara kaya dan kuat.
Dalam pidato-pidatonya, Traoré menyebut organisasi-organisasi global seperti IMF dan PBB tidak pernah berpihak pada rakyat Afrika.
Traoré naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta militer pada 2022, menggulingkan Presiden Paul-Henri Damiba.
Ia digambarkan sebagai sosok sederhana, dekat dengan rakyat, dan menyebut pemerintahannya sebagai lanjutan dari revolusi Thomas Sankara, pahlawan revolusioner Burkina Faso yang juga pernah menggulingkan kekuasaan korup dan pro-Barat.
Seperti Gaddafi, ia menggunakan bahasa revolusioner untuk memberi legitimasi pada kekuasaannya.
4. Gaya Kepemimpinan yang Karismatik dan Simbolik
Gaddafi dikenal dengan penampilan nyentrik, pidato retoris yang membakar semangat, serta pemanfaatan simbol-simbol budaya dan keagamaan untuk mengukuhkan citra dirinya sebagai pemimpin revolusioner sejati.
Ia menolak tinggal di istana, lebih memilih tenda Bedouin sebagai simbol kesederhanaan dan keterikatan pada akar rakyatnya.
Ia juga membangun personifikasi sebagai “Raja Raja Afrika” dan pemimpin moral dunia Islam-Afrika.
Traoré tampil sebagai sosok karismatik dalam balutan pakaian militer dan senyum yang jarang pudar. Ia sering terlihat berada di antara pasukan garis depan melawan kelompok teroris, dan menggunakan gaya komunikasi yang sederhana namun tegas.
Ia juga menjadikan simbol-simbol lokal seperti kerajinan dan bendera tradisional dalam pertemuan politik untuk menunjukkan keterikatannya dengan budaya asli rakyatnya.
5. Nasionalisasi Sumber Daya Alam dan Kedaulatan Ekonomi
Gaddafi mengambil langkah tegas dalam nasionalisasi sumber daya Libya, khususnya minyak, yang sebelumnya dikendalikan perusahaan-perusahaan asing.
Dengan pendapatan minyak, ia membiayai program sosial, kesehatan, pendidikan, serta mendukung pembangunan di negara-negara Afrika lainnya.
Ini menjadikan Libya sebagai salah satu negara dengan tingkat pembangunan manusia terbaik di Afrika sebelum tahun 2011.
Traoré, dengan sumber daya emas dan logam langka di Burkina Faso, juga mulai mendorong kebijakan serupa.
Ia mengusulkan agar perusahaan tambang asing diregulasi lebih ketat, dan sebagian kontraknya ditinjau ulang.
Ia menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi dan pembagian hasil sumber daya secara adil, khususnya untuk mendanai pendidikan dan sektor pertanian rakyat kecil.
6. Penggunaan Retorika “Kedaulatan Rakyat” dan Anti-Elitisme
Gaddafi dan Traoré sama-sama memosisikan diri sebagai anti-elit, anti-korupsi, dan wakil dari rakyat kecil.
Gaddafi dalam Green Book-nya menolak demokrasi parlementer gaya Barat, menyebutnya sebagai bentuk tirani elit, dan mengusulkan sistem komite rakyat.
Traoré menyerukan pembaruan struktural dalam pemerintahan Burkina Faso, menolak pengaruh elite politik lama, dan mengangkat perwira muda dan aktivis sipil ke dalam sistem kekuasaan.
Keduanya juga mengkritik sistem internasional yang menurut mereka hanya melayani negara-negara kaya dan kuat.
Dalam pidato-pidatonya, Traoré menyebut organisasi-organisasi global seperti IMF dan PBB tidak pernah berpihak pada rakyat Afrika.
Lihat Juga :