Profil Revolusioner India Mahatma Gandhi: Pemberontak yang Tak Pernah Meneriakkan Perang
Kamis, 15 Mei 2025 - 14:54 WIB
Di negara itu, dia mengalami diskriminasi karena warna kulitnya. Insiden dikeluarkan secara paksa dari kereta kelas satu pada 1893 menjadi titik balik. Dia tak hanya melawan perlakuan itu—dia mulai mempertanyakan makna keadilan. Dari situlah lahir konsep "satyagraha" atau "kekuatan kebenaran", yang kemudian menjadi senjata utama perjuangannya.
Kembali ke India pada 1915, Gandhi menyaksikan rakyatnya terperangkap dalam jerat kolonialisme. Alih-alih menyerukan perang, dia mendorong rakyat untuk berhenti tunduk. Aksi mogok, boikot produk Inggris, dan puasa menjadi taktiknya.
Puncaknya terjadi pada Salt March (1930), ketika Gandhi berjalan sejauh 385 km ke Dandi untuk membuat garam sendiri—menentang monopoli Inggris yang bahkan mengatur garam rakyat. Aksi ini sederhana, simbolik, dan nyaris senyap—tapi dunia mendengarnya.
Gandhi menolak jabatan dan kekuasaan. Bahkan ketika Kongres Nasional India memintanya mengambil posisi puncak, dia menolaknya. “Kepemimpinan bukanlah jabatan,” katanya semasa hidup.
Namun, tak ada keputusan besar dalam politik India kala itu yang tak menyertakan suara Gandhi, langsung atau tidak langsung.
Ketika India akhirnya merdeka pada 15 Agustus 1947, Gandhi justru tak ikut dalam perayaan. Dia berada di Bengal, memadamkan api kekerasan antarkomunal pasca-pemisahan India dan Pakistan—suatu ironi pahit dari perjuangan panjangnya.
Pada 30 Januari 1948, Gandhi ditembak oleh Nathuram Godse, seorang ekstremis Hindu, yang menuduh Gandhi terlalu toleran terhadap Muslim.
Dunia berduka. Fisikawan genius Albert Einstein menulis: “Generations to come will scarce believe that such a one as this ever in flesh and blood walked upon this earth (Generasi-generasi yang akan datang nyaris tak akan percaya bahwa sosok seperti ini pernah berjalan di atas bumi dalam wujud darah dan daging)".
Satyagraha: Perlawanan Tanpa Suara Tembakan
Kembali ke India pada 1915, Gandhi menyaksikan rakyatnya terperangkap dalam jerat kolonialisme. Alih-alih menyerukan perang, dia mendorong rakyat untuk berhenti tunduk. Aksi mogok, boikot produk Inggris, dan puasa menjadi taktiknya.
Puncaknya terjadi pada Salt March (1930), ketika Gandhi berjalan sejauh 385 km ke Dandi untuk membuat garam sendiri—menentang monopoli Inggris yang bahkan mengatur garam rakyat. Aksi ini sederhana, simbolik, dan nyaris senyap—tapi dunia mendengarnya.
Gandhi menolak jabatan dan kekuasaan. Bahkan ketika Kongres Nasional India memintanya mengambil posisi puncak, dia menolaknya. “Kepemimpinan bukanlah jabatan,” katanya semasa hidup.
Namun, tak ada keputusan besar dalam politik India kala itu yang tak menyertakan suara Gandhi, langsung atau tidak langsung.
Ketika India akhirnya merdeka pada 15 Agustus 1947, Gandhi justru tak ikut dalam perayaan. Dia berada di Bengal, memadamkan api kekerasan antarkomunal pasca-pemisahan India dan Pakistan—suatu ironi pahit dari perjuangan panjangnya.
Gandhi Dibunuh oleh Kaumnya Sendiri
Pada 30 Januari 1948, Gandhi ditembak oleh Nathuram Godse, seorang ekstremis Hindu, yang menuduh Gandhi terlalu toleran terhadap Muslim.
Dunia berduka. Fisikawan genius Albert Einstein menulis: “Generations to come will scarce believe that such a one as this ever in flesh and blood walked upon this earth (Generasi-generasi yang akan datang nyaris tak akan percaya bahwa sosok seperti ini pernah berjalan di atas bumi dalam wujud darah dan daging)".
Lihat Juga :