Konklaf 2025 Sulit Diprediksi, Berikut 4 Alasannya

Rabu, 07 Mei 2025 - 02:35 WIB
Surat kabar Prancis La Croix mengumumkan di Bluesky mengapa mereka "tidak membahas 'kandidat' untuk menggantikan Paus Fransiskus." Itu termasuk fakta bahwa setiap kardinal memenuhi syarat untuk peran tersebut, dan bahwa perdebatan tentang "favorit" sedang dipicu oleh "Vaticanisti" — wartawan kepausan. Namun, La Croix telah menyampaikan perspektifnya tentang kardinal terpenting dari Asia dan Afrika.

Sejarawan gereja Ernesti tidak melihat penunjukan Fransiskus terhadap 80% kardinal yang memenuhi syarat untuk memilih sebagai pra-keputusan — hasilnya tidak pasti. Dia mengatakan ada "terlalu banyak kandidat yang memenuhi syarat untuk jabatan tersebut."

Ernesti melihat suasana umum sebagai suasana yang menyatakan bahwa "reformasi yang diprakarsai oleh Fransiskus harus dilanjutkan," dan dia tidak melihat indikasi "keinginan yang berkembang untuk pembalikan."

Catatan yang lebih ringan: "Rome Duck Store," yang menjual berbagai macam bebek karet plastik berwarna kuning keemasan, juga telah memiliki model "Paus" selama beberapa bulan ini. Pembeli dari semua agama membeli model yang sama persis: bebek dengan topi putih, salib dada, dan cincin kepausan.

3. Lebih Ritualistik, Bukan Parlementer

Sebaliknya, seberapa rumit pemilihan paus, dan seberapa beragamkah para kandidatnya? Apakah satu kandidat memiliki lebih banyak pengalaman daripada yang lain dalam pekerjaan pastoral atau manajemen gereja? Apakah ia berasal dari negara industri atau negara berkembang? Apa orientasi teologisnya? Bagaimana ia berbicara tentang perlakuan gereja terhadap kaum homoseksual? Perbedaan dapat ditemukan bahkan di antara para kandidat dengan keyakinan yang sama, misalnya, mereka yang konservatif, pro-Fransiskus, atau berorientasi pada reformasi.

Signifikansi pra-konklaf telah tumbuh seiring dengan meningkatnya pluralitas di antara para pemilih paus. Sejarawan Ernesti menjelaskan bahwa karena para kardinal tidak lagi hanya bermarkas di Eropa, kongregasi membantu mereka saling mengenal. Sebaliknya, konklaf sangat ritualistik dan "jelas bukan pertukaran parlementer, seperti dalam politik."

Satu hal yang menonjol: Pada hari-hari setelah kematian Fransiskus, para kardinal terkemuka yang dapat membentuk jabatan tersebut membuat pernyataan publik. Misalnya, Uskup Agung Luksemburg Jean-Claude Hollerich (66) dan Luis Antonio Tagle (67) kelahiran Filipina, yang memegang posisi terdepan di salah satu lembaga Vatikan. Namun, mereka sejak itu bungkam.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!