Carut Marut Bangladesh, Ini Pemimpin yang Didukung AS Menggantikan Sheikh Hasina

Rabu, 07 Agustus 2024 - 07:10 WIB
Noh menambahkan AS telah menyuarakan pendapatnya secara terbuka mengenai sistem politik di Bangladesh.

Pada awal Januari tahun ini, AS mengatakan pemilihan umum Bangladesh “tidak bebas atau adil” setelah Hasina memenangkan masa jabatan kelimanya.

“Yunus (tidak) pernah meraih keberhasilan elektoral atau benar-benar memiliki pengalaman sebagai pemimpin politik. Dia pada dasarnya hanyalah seorang bankir, ekonom, dan profesor. Jadi seruan agar dia memimpin pemerintahan sementara sudah sangat mencurigakan, tetapi hal itu mulai berubah ketika Anda menyadari bahwa Yunus adalah favorit AS,” ujar Noh.

“(Yunus) memiliki beasiswa Fulbright. Siapa pun yang tahu tentang beasiswa Fulbright di negara-negara dunia ketiga, Anda tahu bahwa di sanalah CIA menyaring calon-calon muda yang cemerlang,” ungkap analis tersebut.

“Dia pernah mengikuti pelatihan di AS, menduduki jabatan dan masa jabatan di universitas AS, memiliki koneksi di AS, memperoleh medali kehormatan dari AS, presiden dan kongres. Dan, yang terpenting, dia memperkuat kebijakan geoekonomi AS dengan pinjaman mikro,” papar dia.

Menurut Departemen Luar Negeri AS, Yunus ditawari beasiswa Fulbright untuk belajar di AS pada tahun 1965.

Dia kemudian menerima gelar doktor di bidang ekonomi dari Universitas Vanderbilt di negara bagian Tennessee, AS, melalui program pascasarjana di bidang Pembangunan Ekonomi (GPED) pada tahun 1971.

Pada tahun 2006, dia dan rekannya menerima Penghargaan Nobel Perdamaian atas “upaya melalui kredit mikro untuk menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari bawah.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!