6 Negara dengan Populasi Muslim Tinggi yang Melarang Penggunaan Cadar

Rabu, 26 Juni 2024 - 22:22 WIB
Pada tahun 2011, perempuan diizinkan mengenakan jilbab dan niqab di Tunisia setelah larangan selama puluhan tahun di bawah pemerintahan presiden sekuler Zine El Abidine Ben Ali dan Habib Bourguiba, yang menolak segala bentuk pakaian Islami.

Pada bulan Februari 2014, menteri dalam negeri menginstruksikan polisi untuk meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan niqab sebagai bagian dari tindakan “anti-terorisme” untuk mencegah penggunaannya sebagai penyamaran.

3. Kosovo



Foto/AP

Dewan Komunitas Islam Kosovo telah meminta Kementerian Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi, untuk menghapus larangan memakai simbol agama di sekolah menengah setelah foto tanda larangan hijab di pintu masuk sebuah sekolah menengah di Gjakova/Djakovica menuai kritik .

Melarang penggunaan jilbab di sekolah mencerminkan “pola pikir masa lalu,” tulis Dewan Komunitas Islam dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

“Prinsip agama tidak merusak atau menimbulkan risiko bagi masyarakat. Sebaliknya mereka mendidik, mengajar dan memuliakan,” tambah pernyataan itu, meminta kementerian untuk menghapus pasal dalam kode etik dan tindakan disipliner untuk sekolah menengah.

“Siswa tidak diperbolehkan… memakai seragam keagamaan,” bunyi instruksi tersebut.

Konstitusi Kosovo mendefinisikan negaranya sebagai “negara sekuler, netral dalam hal keyakinan agama,” yang memisahkan negara dari agama. Undang-undang tentang Pendidikan Pra-Universitas mewajibkan lembaga pendidikan publik untuk “menahan diri dari pengajaran agama atau kegiatan lain yang menyebarkan agama tertentu”.

Selain itu, penggunaan simbol agama di sekolah menengah dilarang berdasarkan instruksi administratif yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan.

4. Azerbaijan



Foto/AP

Meski 97 persen warga Azerbaijan mengaku beragama Islam, namun jumlah mereka yang secara aktif mengamalkan agama tersebut jauh lebih kecil dan negara ini bangga dengan tradisi sekulernya.

Namun sejak runtuhnya Uni Soviet, ketaatan beragama semakin meningkat. Meskipun tidak ada yang mencatat statistik mengenai masalah ini, peningkatan nyata dalam jumlah perempuan yang mengenakan jilbab telah menjadi topik hangat di kalangan warga Azerbaijan. Bersamaan dengan itu, menurut para pemakai hijab, muncul reaksi balik.

“Sekarang, masyarakat dapat menjalankan agamanya dengan bebas, dan mereka yang ingin menutup aurat mempunyai pilihan untuk melakukannya,” Sadagat, pemilik toko pakaian Islami di Sumgayit, mengatakan kepada Eurasianet. Namun dia mengatakan bahwa tekanan sosial, terkait persepsi umum yang mengaitkan hijab dengan ekstremisme, masih tetap ada. “Beberapa perempuan akhirnya melepas jilbab, hanya untuk menghindari perhatian ekstra di depan umum,” katanya.

Pemilik perusahaan pakaian Islami lainnya, di Baku, mengatakan banyak perempuan berjilbab datang ke tokonya untuk melamar pekerjaan karena mereka mengalami diskriminasi di tempat lain. “Mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan di mana pun, jadi mereka melamar pekerjaan di toko yang menjual jilbab,” katanya kepada Eurasianet.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!