Mengulik Sejarah Hubungan Rusia dan Korut, Ternyata Tidak Selalu Mesra
Kamis, 20 Juni 2024 - 16:15 WIB
Alasannya karena terjadi perbedaan pendapat antara Moskow dan negara-negara Barat mengenai isu-isu keamanan utama.
Pada 2011, Kim Jong-il meninggal dunia dan digantikan oleh putranya, Kim Jong-un. Sekitar 2012, Rusia setuju menghapuskan 90% utang Korea Utara yang diperkirakan berjumlah USD11 miliar.
Namun, Kim Jong-un justru berupaya mempercepat uji coba nuklir dan rudal Korea Utara. Rusia waktu itu masih mendukung sanksi ketat Dewan Keamanan PBB yang mencakup pembatasan pasokan minyak hingga tindakan keras terhadap ekspor tenaga kerja negara tersebut.
Kemudian, Kim Jong-un berupaya meningkatkan hubungan dengan sekutu lamanya, China dan Rusia. Pada April 2019, ia bersama Vladimir Putin berjanji memperluas kerja sama.
Pada 2022, Korea Utara memanfaatkan invasi Rusia terhadap Ukraina. Pyongyang beralih menuju pihak Moskow dan menyalahkan Amerika Serikat atas konflik tersebut.
Korea Utara mengklaim bahwa “kebijakan hegemonik” Barat memberikan justifikasi kepada Putin untuk membela Rusia dengan mengirimkan pasukan ke negara tetangganya.
Pyongyang bersama Suriah bahkan mengakui kemerdekaan dua wilayah separatis yang didukung Moskow di Ukraina timur.
Pada 12 September 2023, Kim Jong-Un bertemu Putin. Sejak pertemuan ini, para pejabat AS dan Korea Selatan menyebut hubungan Korea Utara dan Rusia telah meningkat dan hangat.
Sekitar akhir Maret 2024, Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB, mengakhiri pemantauan sanksi PBB terhadap Korea Utara atas program nuklirnya.
Tindakan ini memicu tuduhan Barat yang menyebut Moskow berusaha menghindari pengawasan karena membeli senjata dari Pyongyang untuk digunakan di Ukraina.
Setelahnya, hubungan Korea Utara dan Rusia semakin mesra. Baru-baru ini, kedua pemimpin negara tersebut kembali bertemu untuk mengadakan pembicaraan.
Itulah sejarah atau riwayat hubungan Rusia dan Korea Utara yang bisa diketahui. Tak selalu mesra, relasi keduanya pernah beberapa kali turun dan memburuk.
Baca juga: Pasukan Kapal Selam China Membuat Terobosan Bersejarah
8. Naiknya Kim Jong-un
Pada 2011, Kim Jong-il meninggal dunia dan digantikan oleh putranya, Kim Jong-un. Sekitar 2012, Rusia setuju menghapuskan 90% utang Korea Utara yang diperkirakan berjumlah USD11 miliar.
Namun, Kim Jong-un justru berupaya mempercepat uji coba nuklir dan rudal Korea Utara. Rusia waktu itu masih mendukung sanksi ketat Dewan Keamanan PBB yang mencakup pembatasan pasokan minyak hingga tindakan keras terhadap ekspor tenaga kerja negara tersebut.
Kemudian, Kim Jong-un berupaya meningkatkan hubungan dengan sekutu lamanya, China dan Rusia. Pada April 2019, ia bersama Vladimir Putin berjanji memperluas kerja sama.
9. Invasi Rusia ke Ukraina
Pada 2022, Korea Utara memanfaatkan invasi Rusia terhadap Ukraina. Pyongyang beralih menuju pihak Moskow dan menyalahkan Amerika Serikat atas konflik tersebut.
Korea Utara mengklaim bahwa “kebijakan hegemonik” Barat memberikan justifikasi kepada Putin untuk membela Rusia dengan mengirimkan pasukan ke negara tetangganya.
Pyongyang bersama Suriah bahkan mengakui kemerdekaan dua wilayah separatis yang didukung Moskow di Ukraina timur.
Pada 12 September 2023, Kim Jong-Un bertemu Putin. Sejak pertemuan ini, para pejabat AS dan Korea Selatan menyebut hubungan Korea Utara dan Rusia telah meningkat dan hangat.
Sekitar akhir Maret 2024, Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB, mengakhiri pemantauan sanksi PBB terhadap Korea Utara atas program nuklirnya.
Tindakan ini memicu tuduhan Barat yang menyebut Moskow berusaha menghindari pengawasan karena membeli senjata dari Pyongyang untuk digunakan di Ukraina.
Setelahnya, hubungan Korea Utara dan Rusia semakin mesra. Baru-baru ini, kedua pemimpin negara tersebut kembali bertemu untuk mengadakan pembicaraan.
Itulah sejarah atau riwayat hubungan Rusia dan Korea Utara yang bisa diketahui. Tak selalu mesra, relasi keduanya pernah beberapa kali turun dan memburuk.
Baca juga: Pasukan Kapal Selam China Membuat Terobosan Bersejarah
(sya)
Lihat Juga :