Buntut Kudeta Militer, Uni Afrika Tangguhkan Keanggotaan Mali
Kamis, 20 Agustus 2020 - 03:11 WIB
Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita dipaksa lengser oleh para tentara yang memberontak, Rabu (19/20/2020). Foto/REUTERS
BAMAKO - Uni Afrika (AU) pada Rabu menangguhkan status keanggotaan Mali setelah para pemimpinnya ditahan oleh tentara yang memberontak dan presiden dipaksa lengser .
"Dewan keamanan AU yang beranggotakan 15 orang menangguhkan Mali dari Uni Afrika sampai pemulihan tatanan konstitusional dan menuntut pembebasan Presiden (Ibrahim) Boubacar Keita , Perdana Menteri dan pejabat pemerintah lainnya yang ditahan paksa oleh tentara," kata Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika di Twitter, seperti dikutip Gulf News, Kamis (20/6/2020).
Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita mengundurkan diri dari jabatannya dan membubarkan parlemen beberapa jam setelah sejumlah tentara menyanderanya dengan todongan senjata api. (Baca: Disandera dan Ditodong Senjata, Presiden Mali Mengundurkan Diri )
Pengunduran dirinya itu semakin menjerumuskan Mali dalam krisis berkepanjangan. Keita menyatakan mundur dalam pidato singkat yang disiarkan televisi setelah tentara menahannya bersama Perdana Menteri Boubou Cisse dan pejabat tinggi lainnya.
"Dewan keamanan AU yang beranggotakan 15 orang menangguhkan Mali dari Uni Afrika sampai pemulihan tatanan konstitusional dan menuntut pembebasan Presiden (Ibrahim) Boubacar Keita , Perdana Menteri dan pejabat pemerintah lainnya yang ditahan paksa oleh tentara," kata Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika di Twitter, seperti dikutip Gulf News, Kamis (20/6/2020).
Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita mengundurkan diri dari jabatannya dan membubarkan parlemen beberapa jam setelah sejumlah tentara menyanderanya dengan todongan senjata api. (Baca: Disandera dan Ditodong Senjata, Presiden Mali Mengundurkan Diri )
Pengunduran dirinya itu semakin menjerumuskan Mali dalam krisis berkepanjangan. Keita menyatakan mundur dalam pidato singkat yang disiarkan televisi setelah tentara menahannya bersama Perdana Menteri Boubou Cisse dan pejabat tinggi lainnya.
Lihat Juga :