Siapa Riken Yamamoto? Arsitek Jepang yang Menang Pritzker 2024
Rabu, 06 Maret 2024 - 22:22 WIB
Bertransisi ke dunia akademis, ia menjabat sebagai Profesor di Departemen Arsitektur Universitas Kogakuin. dari tahun 2002 hingga 2007. Selain itu, ia mengajar di Sekolah Pascasarjana Arsitektur Universitas Nasional Yokohama dan Sekolah Pascasarjana Teknik di Universitas Nihon. Dari tahun 2018 hingga 2022, beliau menjabat sebagai Presiden di Universitas Seni & Desain Nagoya Zokei dan sejak tahun 2022 beliau mengajar di Universitas Seni Tokyo sebagai Profesor Tamu.
Sebagai tindakan pencegahan, ia mengusulkan sebuah "model kawasan komunitas", yang membayangkan struktur yang mengintegrasikan unit hunian dengan beragam fasilitas penting, mendorong kehidupan antargenerasi dan memfasilitasi berbagai gaya hidup komunal.
Pertemuan perdananya dengan arsitektur Amerika terjadi di kota Chicago yang dinamis, di mana ia memberi kuliah kepada para mahasiswa dan membenamkan dirinya dalam tatanan perkotaan khas yang dibentuk setelah Kebakaran Besar. Di dalam dinding Gedung Auditorium Louis Sullivan yang ikonis itulah Yamamoto menemukan sintesis transformatif kemewahan abad ke-19 dan tontonan kontemporer, sebuah momen yang meninggalkan jejak tak terhapuskan pada etos arsitekturalnya.
Pengalaman penting ini terjadi sekitar usia 40 tahun, yang menandakan tonggak penting dalam lintasan profesionalnya. Merefleksikan kunjungan berikutnya ke Neue Nationalgalerie di Berlin oleh Mies van der Rohe, dan membandingkannya dengan kontribusi Mies pada cakrawala Chicago, Yamamoto melihat dikotomi mendalam antara kepekaan organik Sullivan dan kesederhanaan Mies, yang memperkaya pemahamannya tentang manifestasi multifaset modernisme.
Gempa Bumi Besar di Jepang Timur pada tanggal 11 Maret 2011. Sejak terjadinya bencana, beban operasional pengelolaan rumah-rumah tersebut semakin berat. Oleh karena itu, organisasi tersebut memutuskan untuk membentuk payung tunggal NPO HOME-FOR-ALL untuk mendukung setiap proyek.
6. Fokus dan Komunal dan Kolektif
Yamamoto menonjol di antara para arsitek Jepang yang menentang prevalensi rumah keluarga tunggal, dan malah menganjurkan desain perumahan yang memprioritaskan elemen komunal dan kolektif. Dalam pandangannya, homogenisasi unit perumahan telah berkontribusi pada homogenisasi keluarga yang tinggal di dalamnya, menjadikan perumahan sebagai alat untuk penyesuaian dan pengondisian sosial.Sebagai tindakan pencegahan, ia mengusulkan sebuah "model kawasan komunitas", yang membayangkan struktur yang mengintegrasikan unit hunian dengan beragam fasilitas penting, mendorong kehidupan antargenerasi dan memfasilitasi berbagai gaya hidup komunal.
7. Tertarik dengan Arsitektur Vernakular
Melansir archdaily, dalam perjalanan globalnya yang luas, Riken Yamamoto mendapati dirinya sangat tertarik pada arsitektur vernakular, yang kemudian berkembang menjadi ketertarikan mendalam pada desain modernis.Pertemuan perdananya dengan arsitektur Amerika terjadi di kota Chicago yang dinamis, di mana ia memberi kuliah kepada para mahasiswa dan membenamkan dirinya dalam tatanan perkotaan khas yang dibentuk setelah Kebakaran Besar. Di dalam dinding Gedung Auditorium Louis Sullivan yang ikonis itulah Yamamoto menemukan sintesis transformatif kemewahan abad ke-19 dan tontonan kontemporer, sebuah momen yang meninggalkan jejak tak terhapuskan pada etos arsitekturalnya.
Pengalaman penting ini terjadi sekitar usia 40 tahun, yang menandakan tonggak penting dalam lintasan profesionalnya. Merefleksikan kunjungan berikutnya ke Neue Nationalgalerie di Berlin oleh Mies van der Rohe, dan membandingkannya dengan kontribusi Mies pada cakrawala Chicago, Yamamoto melihat dikotomi mendalam antara kepekaan organik Sullivan dan kesederhanaan Mies, yang memperkaya pemahamannya tentang manifestasi multifaset modernisme.
8. Memiliki Misi Sosial yang Tinggi
Pada tahun 2011 ia juga mendirikan HOME-FOR-ALL, sebuah organisasi relawan, bersama Toyo Ito dan Kazuyo Sejima bekerja sama dengan arsitek muda untuk membantu membuat perbedaan dan membangun rumah komunitas di daerah bencana bagi mereka yang kehilangan rumah atau pekerjaan di lokasi bencana.Gempa Bumi Besar di Jepang Timur pada tanggal 11 Maret 2011. Sejak terjadinya bencana, beban operasional pengelolaan rumah-rumah tersebut semakin berat. Oleh karena itu, organisasi tersebut memutuskan untuk membentuk payung tunggal NPO HOME-FOR-ALL untuk mendukung setiap proyek.
(ahm)
Lihat Juga :