Kejahatan Perang! 43 Warga Palestina Tewas Sekejap oleh Bom AS yang Ditembakkan Israel

Jum'at, 08 Desember 2023 - 00:02 WIB
Amnesty mengatakan pihaknya tidak menemukan bukti adanya sasaran atau target militer di salah satu lokasi tersebut, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa serangan tersebut “merupakan serangan langsung terhadap warga sipil atau objek sipil”.

Baca Juga: Israel Sudah Dipasok 10.000 Ton Peralatan Militer AS sejak Perang Gaza Pecah

“Bahkan jika terdapat sasaran militer yang sah di sekitar bangunan yang terkena serangan, serangan ini gagal membedakan antara sasaran militer dan sasaran sipil,” kata Amnesty. “Serangan tanpa pandang bulu yang membunuh atau melukai warga sipil merupakan kejahatan perang.”

Serangan pertama terjadi pada malam tanggal 10 Oktober, ketika serangan udara Israel menghantam kediaman Al-Najjar di Deir al-Balah, sebuah kota di Gaza tengah, menewaskan 21 anggota keluarga dan tiga tetangganya.

Suleiman Salman Al-Najjar (48), seorang penjual mobil dan pemilik bengkel, kehilangan istrinya, Susanne, dan empat anaknya, Farah (23), Nadim (20), Yazan (14), dan putrinya yang berusia 17 bulan, Safa .

Najjar sedang pulang ke rumah setelah menerima perawatan di rumah sakit karena masalah ginjalnya ketika dia mendengar ledakan dan segera mengetahui rumahnya telah dibom.

"Saya bergegas pulang dan melihat pemandangan yang hancur total. Saya tidak dapat mempercayai mata saya. Semua orang berada di bawah reruntuhan. Rumah itu hancur lebur. Mayat-mayat hancur berkeping-keping," katanya kepada Amnesty.

“Hanya jenazah anak saya Nadim yang ditemukan utuh. Bayi perempuanku, Safa, kami hanya menemukan tangannya."

Najjar kini tinggal bersama dua putranya yang masih hidup di tenda dekat reruntuhan rumahnya.

"Hidup kami hancur dalam sekejap. Keluarga kami hancur. Sesuatu yang tidak terpikirkan kini menjadi kenyataan," katanya.

Serangan kedua terjadi pada 22 Oktober sekitar tengah hari, ketika serangan udara Israel menghantam tiga rumah di utara Deir al-Balah milik keluarga Abu Mu'eileq, menewaskan 18 anggota keluarga dan tetangganya.

Bakir Abu Mu'eileq, seorang dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan, kehilangan istrinya, Islam (34), dan empat anak mereka, Do'a (16), Ghanem (14), Mohamed (12), dan Lama (11).

Abu Mu'eileq mengatakan kepada Amnesty bahwa dia dan kerabatnya "fokus pada keluarga dan pekerjaan kami dan jauh dari politik".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!