Boneka Seks China Laris Manis selama Lockdown Covid-19
Jum'at, 24 Juli 2020 - 15:56 WIB
Aibei Sex Doll Company yang berbasis di Dongguan juga harus meningkatkan jumlah pekerja, karena lonjakan permintaan. Hal ini disampaikan manajer umum perusahaan yang hanya memberi nama marga Lou.
Meskipun tenaga kerjanya bertambah, pabrikan itu masih harus menolak pesanan karena kurangnya kapasitas untuk memenuhinya. Aibei memproduksi sekitar 1.500 boneka seks per bulan, dengan harga yang berkisar dari 2.200 yuan (USD314) hingga 3.600 yuan (USD514).
"Ini adalah ceruk pasar di China, karena budaya China relatif konservatif, sehingga semua produk kami berorientasi ekspor, dengan Amerika Serikat dan Eropa menjadi pasar terbesar," kata Lou.
Lou mengatakan pabrik-pabrik besar di Dongguan dapat memproduksi sekitar 2.000 boneka seks per bulan dan pabrik-pabrik kecil memproduksi antara 300 dan 500 unit.
Mengutip laporan The Paper yang berbasis di Shanghai, South China Morning Post menyatakan bahwa ekspor main seks (sex toy) China telah meningkat 50 persen sepanjang tahun ini, dengan ekspor ke Italia pada khususnya melonjak empat kali lipat sejak Maret. Lonjakan terjadi ketika kasus Covid-19 mulai muncul di negara tersebut.
Permintaan mainan seks juga meningkat di Amerika Serikat, Inggris, Denmark, Selandia Baru, dan Australia ketika tindakan lockdown dilembagakan di negara-negara tersebut. (Baca juga: Menteri Chile Dihadiahi Boneka Seks untuk Merangsang Ekonomi )
Meskipun tenaga kerjanya bertambah, pabrikan itu masih harus menolak pesanan karena kurangnya kapasitas untuk memenuhinya. Aibei memproduksi sekitar 1.500 boneka seks per bulan, dengan harga yang berkisar dari 2.200 yuan (USD314) hingga 3.600 yuan (USD514).
"Ini adalah ceruk pasar di China, karena budaya China relatif konservatif, sehingga semua produk kami berorientasi ekspor, dengan Amerika Serikat dan Eropa menjadi pasar terbesar," kata Lou.
Lou mengatakan pabrik-pabrik besar di Dongguan dapat memproduksi sekitar 2.000 boneka seks per bulan dan pabrik-pabrik kecil memproduksi antara 300 dan 500 unit.
Mengutip laporan The Paper yang berbasis di Shanghai, South China Morning Post menyatakan bahwa ekspor main seks (sex toy) China telah meningkat 50 persen sepanjang tahun ini, dengan ekspor ke Italia pada khususnya melonjak empat kali lipat sejak Maret. Lonjakan terjadi ketika kasus Covid-19 mulai muncul di negara tersebut.
Permintaan mainan seks juga meningkat di Amerika Serikat, Inggris, Denmark, Selandia Baru, dan Australia ketika tindakan lockdown dilembagakan di negara-negara tersebut. (Baca juga: Menteri Chile Dihadiahi Boneka Seks untuk Merangsang Ekonomi )
Lihat Juga :