Raja Baru Saudi Pernah Jadi Donatur Militan Afghanistan?
Sabtu, 24 Januari 2015 - 18:13 WIB
Raja Baru Saudi Pernah Jadi Donatur Militan Afghanistan?
A
A
A
RIYADH - Salman bin Abdulaziz Al Saud, raja baru Arab Saudi diduga sebagai donatur militan pengusir tentara Soviet saat pertempuran pecah di Afghanistan beberapa tahun silam.
Raja Salman yang diketahui pernah menderita demensia, merupakan ayah dari 13 anak dari tiga istri. Putra keduanya, Pangeran Sultan bin Salman adalah pria Muslim pertama yang jadi astronot.
Sebelum naik takhta, raja berusia 71 tahun ini pernah mengenyam pendidikan di Royal Air Force College Inggris. Dia juga sempat menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II dan Direktur Jenderal Badan Intelijen Saudi.
Menurut Daily Mail, Sabtu (24/1/2015), Salman ketika berstatus sebagai pangeran bersama dengan Amerika Serikat, mengumpulkan dana untuk mendukung militan di Afghanistan untuk mengusir tentara Soviet (sekarang Rusia) saat pertempuran pecah beberapa tahun silam.
Dr Chris Davidson, pakar politik di Timur Tengah mengungkap dugaan Salman sebagai donatur militan Afghanistan kepada Daily Mail.”Pangeran Salman memang salah satu penggalang dana, tetapi dalam perjanjian yang jelas dengan kebijakan Amerika Serikat pada saat itu,” katanya.
”’Mujahidin’ akhirnya melawan tentara Soviet, namun mereka didanai terutama untuk menyingkirkan pemerintah Kabul, yang mencoba untuk memperkenalkan struktur sosialis, sekularisasi, dan mempromosikan hak-hak perempuan, dan menentang visi Saudi sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim,” lanjut Davidson.
Namun, militan yang diduga didanai Salman adalah militan sebelum menjadi faksi radikal yang kini bernama al-Qaeda.
Menurut buku Understanding Islamic Charities, yang diedit oleh Jon Alterman dan Karin Von Hippel, Salman antara tahun 1998-2003 memimpin sebuah komite yang mendanai “mujahidin” Palestina. Jumlah dananya sekitar £53 juta.
Raja Salman yang diketahui pernah menderita demensia, merupakan ayah dari 13 anak dari tiga istri. Putra keduanya, Pangeran Sultan bin Salman adalah pria Muslim pertama yang jadi astronot.
Sebelum naik takhta, raja berusia 71 tahun ini pernah mengenyam pendidikan di Royal Air Force College Inggris. Dia juga sempat menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II dan Direktur Jenderal Badan Intelijen Saudi.
Menurut Daily Mail, Sabtu (24/1/2015), Salman ketika berstatus sebagai pangeran bersama dengan Amerika Serikat, mengumpulkan dana untuk mendukung militan di Afghanistan untuk mengusir tentara Soviet (sekarang Rusia) saat pertempuran pecah beberapa tahun silam.
Dr Chris Davidson, pakar politik di Timur Tengah mengungkap dugaan Salman sebagai donatur militan Afghanistan kepada Daily Mail.”Pangeran Salman memang salah satu penggalang dana, tetapi dalam perjanjian yang jelas dengan kebijakan Amerika Serikat pada saat itu,” katanya.
”’Mujahidin’ akhirnya melawan tentara Soviet, namun mereka didanai terutama untuk menyingkirkan pemerintah Kabul, yang mencoba untuk memperkenalkan struktur sosialis, sekularisasi, dan mempromosikan hak-hak perempuan, dan menentang visi Saudi sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim,” lanjut Davidson.
Namun, militan yang diduga didanai Salman adalah militan sebelum menjadi faksi radikal yang kini bernama al-Qaeda.
Menurut buku Understanding Islamic Charities, yang diedit oleh Jon Alterman dan Karin Von Hippel, Salman antara tahun 1998-2003 memimpin sebuah komite yang mendanai “mujahidin” Palestina. Jumlah dananya sekitar £53 juta.
(mas)