Pemenang Nobel: AS Jatuhkanlah Buku Ketimbang Bom ke ISIS
Sabtu, 13 Desember 2014 - 16:01 WIB
Pemenang Nobel: AS Jatuhkanlah Buku Ketimbang Bom ke ISIS
A
A
A
WASHINGTON - Pemenang Nobel Perdamaian asal Iran, Shirin Ebadi, menyarankan agar Amerika Serikat (AS) menjatuhkan buku ketimbang bom kepada ISIS.
Menurutnya, pemboman terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak menyelesaikan masalah dan justru menimbulkan kehancuran. Sebab, akar masalahnya adalah ideologi radikal.
Shirin Ebadi adalah salah satu hakim wanita pertama Iran. Dia dilengserkan setelah revolusi Islam tahun 1979. Dia kemudian menjadi aktivis HAM paling menonjol di Iran. Shirin meraih Nobel Perdamaian tahun 2003 dan dipaksa hidup di pengasingan tahun 2009.
Menurut Shirin tidak ada obat militer yang manjur untuk memerangi fundamentalis dan radikalisme. Dia mencontohkan, pengalaman perang AS di Afghanistan untuk memerangi Taliban yang tidak menghasilkan apa-apa.
”Lihatlah semua tahun dan semua uang yang telah dihamburkan dalam memerangi Taliban," kata wanita berusia 67 tahun itu, seperti dikutip AFP, Sabtu (13/12/2014). ”Apakah kita memberantas mereka? Sayangnya tidak.”
”ISIS seperti cabang Taliban. Ini tidak hanya kelompok teroris. Ini juga merupakan ideologi, dan ideologi apapun, Anda harus melawannya dengan akar-akarnya. Ketika Anda membunuh akar. Itu tidak akan berkembang,” lanjut Shirin.
”Bagi saya mereka akar dari dua hal. Buta huruf dan kurangnya kedilan sosial,” imbuh Shirin. ”Alih-alih menjatuhkan bom pada mereka, kita harus menjatuhkan buku pada mereka dan membangun sekolah. Dengan demikian Anda akan melihat fundamentalisme yang akan dihilangkan.”
Menurutnya, pemboman terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak menyelesaikan masalah dan justru menimbulkan kehancuran. Sebab, akar masalahnya adalah ideologi radikal.
Shirin Ebadi adalah salah satu hakim wanita pertama Iran. Dia dilengserkan setelah revolusi Islam tahun 1979. Dia kemudian menjadi aktivis HAM paling menonjol di Iran. Shirin meraih Nobel Perdamaian tahun 2003 dan dipaksa hidup di pengasingan tahun 2009.
Menurut Shirin tidak ada obat militer yang manjur untuk memerangi fundamentalis dan radikalisme. Dia mencontohkan, pengalaman perang AS di Afghanistan untuk memerangi Taliban yang tidak menghasilkan apa-apa.
”Lihatlah semua tahun dan semua uang yang telah dihamburkan dalam memerangi Taliban," kata wanita berusia 67 tahun itu, seperti dikutip AFP, Sabtu (13/12/2014). ”Apakah kita memberantas mereka? Sayangnya tidak.”
”ISIS seperti cabang Taliban. Ini tidak hanya kelompok teroris. Ini juga merupakan ideologi, dan ideologi apapun, Anda harus melawannya dengan akar-akarnya. Ketika Anda membunuh akar. Itu tidak akan berkembang,” lanjut Shirin.
”Bagi saya mereka akar dari dua hal. Buta huruf dan kurangnya kedilan sosial,” imbuh Shirin. ”Alih-alih menjatuhkan bom pada mereka, kita harus menjatuhkan buku pada mereka dan membangun sekolah. Dengan demikian Anda akan melihat fundamentalisme yang akan dihilangkan.”
(mas)