Gadis Cantik Inggris Diduga Bertaruh Nyawa Melawan ISIS
Selasa, 25 November 2014 - 10:07 WIB
Gadis Cantik Inggris Diduga Bertaruh Nyawa Melawan ISIS
A
A
A
LONDON - Gadis cantik kelahiran Inggris, Silhan Ozcelik, 17, meninggalkan negaranya dan diduga bertaruh nyawa dengan beperang melawan ISIS di Suriah.
Mahasiswi jurusan ilmu politik itu pergi sejak Oktober 2014. Dia diduga telah bergabung dengan pasukan Kurdi yang memusuhi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Keluarganya hanya menerima pesan singkat setelah gadis itu naik kereta api menuju Belgia. “Lupakan saya,” bunyi pesan singkat itu. Dugaan dia bertaruh nyawa melawan ISIS wajar, karena gadis itu merupakan keturunan etnis Kurdi yang menjadi sasaran pembantaian ISIS.
Teman dari keluarga gadis itu, Ibrahim Yahli, 30, mengutip pernyataan ibu Silhan saat putrinya berpamitan dengan kakaknya. ”Ibunya mengatakan kepada kami bahwa ketika ia (Silhan) pertama kali pergi ke Belgia, dia menelepon kakaknya. Dia bilang dia di Belgia dan mereka harus melupakannya,” kata Ibrahim. “Ini bukan hal yang baru bagi anak muda Kurdi.”
”Anak-anak ini telah menyadari cerita serangan ISIS dan melihat serangan terhadap perempuan dan anak-anak yang bisa menggerakkan hatinya untuk pergi (melawan ISIS),” lanjut Ibrahim.
Arman Banirad, 30, ketua Asosiasi Kurdi di Haringey, London Utara, di mana Silhan jadi anggotanya menceritakan kesedihan keluarga gadis itu.”Keluarganya terpukul atas apa yang terjadi. Mereka patah hati. Dia memiliki kakak perempuan,” ujar Arman, seperti dikutip Mirror, semalam.
”Ibunya sangat khawatir tentang keselamatannya. Tak ada yang tahu apa yang dia rencanakan. Dia selalu aktif di komunitas kami dan melakukan banyak pekerjaan dengan anak-anak di komunitas (Kurdi),” imbuh dia.
Menurut Arman, polisi mengetahui bahwa gadis itu pergi ke Belgia dengan seorang pria. Namun,dugaan dia pergi ke Suriah untuk memerangi ISIS masih diselidiki.
”Kami masih tidak tahu apakah dia telah pergi keluar (menuju Suriah) dalam kapasitasnya sebagai relawan kemanusiaan atau untuk melawan (ISIS). Banyak orang Kurdi telah di luar sana bekerja untuk tujuan kemanusiaan,” lanjut dia.
Mahasiswi jurusan ilmu politik itu pergi sejak Oktober 2014. Dia diduga telah bergabung dengan pasukan Kurdi yang memusuhi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Keluarganya hanya menerima pesan singkat setelah gadis itu naik kereta api menuju Belgia. “Lupakan saya,” bunyi pesan singkat itu. Dugaan dia bertaruh nyawa melawan ISIS wajar, karena gadis itu merupakan keturunan etnis Kurdi yang menjadi sasaran pembantaian ISIS.
Teman dari keluarga gadis itu, Ibrahim Yahli, 30, mengutip pernyataan ibu Silhan saat putrinya berpamitan dengan kakaknya. ”Ibunya mengatakan kepada kami bahwa ketika ia (Silhan) pertama kali pergi ke Belgia, dia menelepon kakaknya. Dia bilang dia di Belgia dan mereka harus melupakannya,” kata Ibrahim. “Ini bukan hal yang baru bagi anak muda Kurdi.”
”Anak-anak ini telah menyadari cerita serangan ISIS dan melihat serangan terhadap perempuan dan anak-anak yang bisa menggerakkan hatinya untuk pergi (melawan ISIS),” lanjut Ibrahim.
Arman Banirad, 30, ketua Asosiasi Kurdi di Haringey, London Utara, di mana Silhan jadi anggotanya menceritakan kesedihan keluarga gadis itu.”Keluarganya terpukul atas apa yang terjadi. Mereka patah hati. Dia memiliki kakak perempuan,” ujar Arman, seperti dikutip Mirror, semalam.
”Ibunya sangat khawatir tentang keselamatannya. Tak ada yang tahu apa yang dia rencanakan. Dia selalu aktif di komunitas kami dan melakukan banyak pekerjaan dengan anak-anak di komunitas (Kurdi),” imbuh dia.
Menurut Arman, polisi mengetahui bahwa gadis itu pergi ke Belgia dengan seorang pria. Namun,dugaan dia pergi ke Suriah untuk memerangi ISIS masih diselidiki.
”Kami masih tidak tahu apakah dia telah pergi keluar (menuju Suriah) dalam kapasitasnya sebagai relawan kemanusiaan atau untuk melawan (ISIS). Banyak orang Kurdi telah di luar sana bekerja untuk tujuan kemanusiaan,” lanjut dia.
(mas)