UE Sebut Yarusalem Bisa Jadi Ibu Kota Dua Negara
Minggu, 09 November 2014 - 17:23 WIB
UE Sebut Yarusalem Bisa Jadi Ibu Kota Dua Negara
A
A
A
RAMALLAH - Salah seorang perwakilan Uni Eropa (UE), Federica Mogherini menyatakan, Yarusalem, kota yang menjadi rebutan antara Israel dan Palestina, sebenarnya bisa menjadi ibu kota bagi kedua negara.
"Saya pikir Yerusalem dapat dan harus menjadi ibukota dua negara," kata Mogherini saat melakukan jumpa wartawan bersama dengan Perdana Menteri Palestina, Rami Hamdallah, di Tepi Barat, seperti dilansir Al Arabiya, Minggu (9/11/2014).
Menurutnya, ide tersebut bisa menjadi pemecah kebuntuan dalam proses negosiasi damai Israel dan Palestina, dimana keduanya tetap ngotot menginginkan Yarusalem sebagai ibukota mereka, walaupun sebenarnya Palestina lebih berhak atas Yarusalem, bila melihat perjanjian pembagian wilayah pada tahun 1967.
“Yarusalem adalah kota yang sangat indah, kita memiliki tantangan besar saat ini untuk bisa membuat kota ini menjadi milik kedua negara,” ucap Mogherini. “Kita harus mencari cara agar pembagian kota ini tidak membuat masalah baru,” imbuhnya.
Di mata Mogherini, konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, saat ini bukanlah menjadi isu regional semata, melainkan sudah menjadi isu internasional. Dirinya berharap dunia internasional mau turut campur lebih banyak dalam menyelesaikan masalah kedua negara.
"Saya pikir Yerusalem dapat dan harus menjadi ibukota dua negara," kata Mogherini saat melakukan jumpa wartawan bersama dengan Perdana Menteri Palestina, Rami Hamdallah, di Tepi Barat, seperti dilansir Al Arabiya, Minggu (9/11/2014).
Menurutnya, ide tersebut bisa menjadi pemecah kebuntuan dalam proses negosiasi damai Israel dan Palestina, dimana keduanya tetap ngotot menginginkan Yarusalem sebagai ibukota mereka, walaupun sebenarnya Palestina lebih berhak atas Yarusalem, bila melihat perjanjian pembagian wilayah pada tahun 1967.
“Yarusalem adalah kota yang sangat indah, kita memiliki tantangan besar saat ini untuk bisa membuat kota ini menjadi milik kedua negara,” ucap Mogherini. “Kita harus mencari cara agar pembagian kota ini tidak membuat masalah baru,” imbuhnya.
Di mata Mogherini, konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, saat ini bukanlah menjadi isu regional semata, melainkan sudah menjadi isu internasional. Dirinya berharap dunia internasional mau turut campur lebih banyak dalam menyelesaikan masalah kedua negara.
(esn)