600 Warga Desanya Dibantai ISIS, Wanita Yazidi Angkat Senjata
Jum'at, 24 Oktober 2014 - 08:49 WIB
600 Warga Desanya Dibantai ISIS, Wanita Yazidi Angkat Senjata
A
A
A
SINJAR - Seorang wanita Yazidi terpaksa mengangkat senjata untuk berperang melawan ISIS setelah keluarga dan sekitar 600 warga di desanya dibantai kelompok radikal itu. Wanita itu juga bertekad merebut tanah airnya yang dirampas ISIS.
Robjon—nama depan wanita Kurdi itu—menceritakan pembantaian mengerikan yang dilakukan para militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terhadap keluarga dan para warga di desanya, di wilayah Irak utara.
Dia berbagi cerita kepada seorang wartawann Kurdi, Khazar Fatemi, di mana video rekaman testimoninya telah dipublikasikan Huffington Post.
”Saya tidak akan pernah memaafkan! Saya telah berjanji pada diri sendiri bahwa sebelum saya mati, saya akan kembali ke Shengal,” kata Robjon, mengacu pada kota kelahirannya, di mana ia berhasil melarikan diri saat hendak ditangkap militan ISIS.
Dia kini mengangkat senjata bersama tentara nasional Kurdistan Suriah. ”Mereka (ISIS) telah membunuh sekitar 600 orang dan menculik para wanita dan anak-anak,” ujar Robjon, yang dilansir Al Arabiya semalam (23/10/2014).
ISIS pada bulan ini dilaporkan menjual para wanita Yazidi yang mereka culik sebelumnya. Menurut Robjon, pembantaian massal yang dilakukan ISIS terhadap warga desanya berlansung Agustus 2014 lalu. Dia merasa beruntung bisa melarikan diri dengan beberapa orang dari Gunung Sinjar menuju Mosul.
Namun, dia tidak bisa menutupi kesedihannya karena seluruh keluarganya terjebak di desanya, yang dia yakini sudah tewas dibunuh militan ISIS. ”Ketika saya sampai ke gunung (Sinjar), saya menelepon mereka. Mereka mengatakan; ’kita dikepung, kita tidak bisa keluar!’. Kemudian di lain waktu saya menghubungi mereka dan tidak ada jawaban,” tutur Robjon dengan mata berkaca-kaca.
”Beberapa hari kemudian, kami diberitahu bahwa semua orang di desa kami telah dibunuh,” imbuh dia. ”Saya selalu merasa ingin menangis. Saya bersembunyi di balik dinding, sehingga teman-teman saya tidak akan melihat saya, dan saya menangis. Saya berpikir tentang adik saya, dan bertanya-tanya apa yang dilakukan ISIS kepadanya,” paparnya.
Sementara itu, kepala dewan spiritual Yazidi, Tahsin Ali Saeed, berharap masyarakat internasional membantu untuk melindungi warga etnis Yazidi dari kebencian dan permusuhan yang dkobarkan ISIS.
Robjon—nama depan wanita Kurdi itu—menceritakan pembantaian mengerikan yang dilakukan para militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terhadap keluarga dan para warga di desanya, di wilayah Irak utara.
Dia berbagi cerita kepada seorang wartawann Kurdi, Khazar Fatemi, di mana video rekaman testimoninya telah dipublikasikan Huffington Post.
”Saya tidak akan pernah memaafkan! Saya telah berjanji pada diri sendiri bahwa sebelum saya mati, saya akan kembali ke Shengal,” kata Robjon, mengacu pada kota kelahirannya, di mana ia berhasil melarikan diri saat hendak ditangkap militan ISIS.
Dia kini mengangkat senjata bersama tentara nasional Kurdistan Suriah. ”Mereka (ISIS) telah membunuh sekitar 600 orang dan menculik para wanita dan anak-anak,” ujar Robjon, yang dilansir Al Arabiya semalam (23/10/2014).
ISIS pada bulan ini dilaporkan menjual para wanita Yazidi yang mereka culik sebelumnya. Menurut Robjon, pembantaian massal yang dilakukan ISIS terhadap warga desanya berlansung Agustus 2014 lalu. Dia merasa beruntung bisa melarikan diri dengan beberapa orang dari Gunung Sinjar menuju Mosul.
Namun, dia tidak bisa menutupi kesedihannya karena seluruh keluarganya terjebak di desanya, yang dia yakini sudah tewas dibunuh militan ISIS. ”Ketika saya sampai ke gunung (Sinjar), saya menelepon mereka. Mereka mengatakan; ’kita dikepung, kita tidak bisa keluar!’. Kemudian di lain waktu saya menghubungi mereka dan tidak ada jawaban,” tutur Robjon dengan mata berkaca-kaca.
”Beberapa hari kemudian, kami diberitahu bahwa semua orang di desa kami telah dibunuh,” imbuh dia. ”Saya selalu merasa ingin menangis. Saya bersembunyi di balik dinding, sehingga teman-teman saya tidak akan melihat saya, dan saya menangis. Saya berpikir tentang adik saya, dan bertanya-tanya apa yang dilakukan ISIS kepadanya,” paparnya.
Sementara itu, kepala dewan spiritual Yazidi, Tahsin Ali Saeed, berharap masyarakat internasional membantu untuk melindungi warga etnis Yazidi dari kebencian dan permusuhan yang dkobarkan ISIS.
(mas)