Belanda Batalkan Pengiriman Tentara ke Lokasi Jatuhnya MH17
Senin, 28 Juli 2014 - 10:51 WIB
Belanda Batalkan Pengiriman Tentara ke Lokasi Jatuhnya MH17
A
A
A
AMSTERDAM - Pemerintah Belanda akhirnya membatalkan rencana pengiriman tentara ke lokasi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH17 di Ukraina timur. Menurut pemerintah Belanda, pengiriman tentara sangatlah tidak tepat, mengingat wilayah itu merupakan wilayah konflik.
Melansir Channel News Asia, Senin (28/7/2014), Belanda dan beberapa negara lainnya berencana untuk mengirimkan misi bersenjata internasional untuk mengamankan lokasi jatuhnya pesawat nahas itu.
“Menaruh misi bersenjata internasional menurut pandangan kami hal itu adalah sesuatu yang tidak realistis dan dapat memicu konflik lanjutan,” ungkap Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte melalui sebuah pernyataan.
Menurut dirinya, sangatlah tidak memungkinkan untuk mengirimkan pasukan bersenjata ke wilayah yang sedang dilanda dengan konflik. Hal ini justru bisa menimbulkan kesalah pahaman dan semakin memperburuk situasi di sana.
"Kami menyimpulkan, setelah berdiskusi dengan mitra internasional kami bahwa ada risiko nyata bila kami tetap mengirimkan misi bersenjata ke sana seperti menjadi terlibat langsung dalam konflik di Ukraina," Rutte menambahkan.
Pada awalnya, rencana pengiriman misi besenjata internasional ke lokasi jatuhnya MH17 adalah sebagai bentuk pengamanan. Keputusan ini diambil karena banyaknya laporan penjarahan di lokasi jatuhnya pesawat nahas itu.
Melansir Channel News Asia, Senin (28/7/2014), Belanda dan beberapa negara lainnya berencana untuk mengirimkan misi bersenjata internasional untuk mengamankan lokasi jatuhnya pesawat nahas itu.
“Menaruh misi bersenjata internasional menurut pandangan kami hal itu adalah sesuatu yang tidak realistis dan dapat memicu konflik lanjutan,” ungkap Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte melalui sebuah pernyataan.
Menurut dirinya, sangatlah tidak memungkinkan untuk mengirimkan pasukan bersenjata ke wilayah yang sedang dilanda dengan konflik. Hal ini justru bisa menimbulkan kesalah pahaman dan semakin memperburuk situasi di sana.
"Kami menyimpulkan, setelah berdiskusi dengan mitra internasional kami bahwa ada risiko nyata bila kami tetap mengirimkan misi bersenjata ke sana seperti menjadi terlibat langsung dalam konflik di Ukraina," Rutte menambahkan.
Pada awalnya, rencana pengiriman misi besenjata internasional ke lokasi jatuhnya MH17 adalah sebagai bentuk pengamanan. Keputusan ini diambil karena banyaknya laporan penjarahan di lokasi jatuhnya pesawat nahas itu.
(esn)