Terganggu, Malaysia Tekan Indonesia Atasi Kabut Asap
Rabu, 25 Juni 2014 - 16:26 WIB
Terganggu, Malaysia Tekan Indonesia Atasi Kabut Asap
A
A
A
KUALA LUMPUR - Pemerintah Malaysia menekan Indonesia agar cepat bertindak dalam memadamkan kebakaran hutan di Sumatra. Sebab, Malaysia sudah terganggu dengan kabut asap yang diakibatkan dari kebakaran hutan tersebut.
Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Malaysia, G. Palanivel, mengatakan tekanan atau desakan itu sudah ditulis dalam surat yang ditujukan kepada Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia. Surat itu ditulis oleh Direktur Jenderal Lingkungan Hidup Malaysia Halimah Hassan.
”Surat itu mengungkapkan keprihatinan Malaysia tentang peningkatan jumlah hotspot (titik api) yang menyebabkan kabut di semenanjung sejak 22 Juni 2014,” katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip The Star, Rabu (25/6/2014).
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) yang berbasis di Singapura melaporkan, hotspot di Sumatera, wilayah Indonesia naik dari 129 menjadi 143.
Selain itu, di Malaysia sendiri juga muncul 25 hotspot. Antara lain berada di Pahang (12), Johor (4), Sarawak (3), Kedah (1), Kelantan (1), Melaka (1), Selangor (1), Perak (1 ) dan Penang (1). ”Titik api akan diselidiki, dan tindakan yang tepat akan diambil oleh pihak yang berwajib,” katanya.
Pagi ini, indeks polusi udara (API) di sejumlah wilayah Malaysia menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat. Palanivel mengatakan kerusakan API dipengaruhi oleh kabut lintas batas negara yang terbawa angina ke Malaysia. Dia memperkirakan kondisi seperti itu akan bertahan hingga September 2014.
Menurutnya, citra satelit dari National Oceanic and Atmospheric Administration yang dikeluarkan oleh ASMC kemarin, menunjukkan kabut asap muncul dari pembakaran lahan di daerah di Riau, Sumatra. Kabut itu kemudian menuju ke wilayah barat daya, Semenanjung Malaysia.
Masih menurut pernyataan Palanivel, departemen yang dia pimpin telah mengambil berbagai langkah termasuk pelarangan pembakaran lahan terbuka sejak Februari 2014 untuk mengimbangi dampak El Nino.
Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Malaysia, G. Palanivel, mengatakan tekanan atau desakan itu sudah ditulis dalam surat yang ditujukan kepada Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia. Surat itu ditulis oleh Direktur Jenderal Lingkungan Hidup Malaysia Halimah Hassan.
”Surat itu mengungkapkan keprihatinan Malaysia tentang peningkatan jumlah hotspot (titik api) yang menyebabkan kabut di semenanjung sejak 22 Juni 2014,” katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip The Star, Rabu (25/6/2014).
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) yang berbasis di Singapura melaporkan, hotspot di Sumatera, wilayah Indonesia naik dari 129 menjadi 143.
Selain itu, di Malaysia sendiri juga muncul 25 hotspot. Antara lain berada di Pahang (12), Johor (4), Sarawak (3), Kedah (1), Kelantan (1), Melaka (1), Selangor (1), Perak (1 ) dan Penang (1). ”Titik api akan diselidiki, dan tindakan yang tepat akan diambil oleh pihak yang berwajib,” katanya.
Pagi ini, indeks polusi udara (API) di sejumlah wilayah Malaysia menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat. Palanivel mengatakan kerusakan API dipengaruhi oleh kabut lintas batas negara yang terbawa angina ke Malaysia. Dia memperkirakan kondisi seperti itu akan bertahan hingga September 2014.
Menurutnya, citra satelit dari National Oceanic and Atmospheric Administration yang dikeluarkan oleh ASMC kemarin, menunjukkan kabut asap muncul dari pembakaran lahan di daerah di Riau, Sumatra. Kabut itu kemudian menuju ke wilayah barat daya, Semenanjung Malaysia.
Masih menurut pernyataan Palanivel, departemen yang dia pimpin telah mengambil berbagai langkah termasuk pelarangan pembakaran lahan terbuka sejak Februari 2014 untuk mengimbangi dampak El Nino.
(mas)