Ukraina memanas lagi, Rusia marah dituduh dalangi kekacauan
Selasa, 08 April 2014 - 09:52 WIB
Ukraina memanas lagi, Rusia marah dituduh dalangi kekacauan
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Rusia marah dan tidak terima dengan tuduhan sebagai dalang atas memanasnya kembali situasi politik di Ukraina. Massa di tiga wilayah, di Ukraina timur mengamuk dan menuntut referendum untuk memisahkan diri dari Ukraina.
Pemerintah baru Ukraina dan Amerika Serikat menyalahkan Rusia atas memanasnya lagi situasi di Ukraina. Perdana Menteri Ukraina, Arseniy Yatsenyuk, menuduh Rusia berusaha untuk memecah negaranya dengan memprovokasi wilayah timur agar memisahkan diri dari Kiev.
Namun, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dalam sebuah artikel di Guardian, membantah tuduhan itu.”Tuduhan yang tidak berdasar,” kata Lavrov.
Kementerian Luar Negeri Rusia, mengatakan Pemerintah Rusia tengah mengamati dengan seksama terkait apa yang terjadi di Ukraina timur, khususnya di Donetsk, Luhansk dan Kharkiv.
Selain menepis tudingan sebagai dalang kekacauan di Ukraina timur, Rusia menegaskan kembali desakan agar Ukraina menciptakan pemerintah federal dengan memberikan kekuasaan yang lebih luas untuk setiap provinsinya.
”Berhenti menunjuk ke Rusia, dan (berhenti) menyalahkan itu untuk semua masalah dari Ukraina hari ini,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, seperti dikutip BBC, semalam (7/4/2014).
Sementara itu, Presiden interim Ukraina, Oleksandr Turchynov, mengabaikan bantahan Rusia. Dia tetap meyakini bahwa Rusia sebagai dalang untuk memecah belah wilayah Ukraina.
”Itu adalah gelombang kedua dari operasi Rusia untuk mengacaukan Ukraina, menggulingkan pemerintah dan mengganggu pemilu yang direncanakan,” ucap Turchynov.
Pemerintah baru Ukraina dan Amerika Serikat menyalahkan Rusia atas memanasnya lagi situasi di Ukraina. Perdana Menteri Ukraina, Arseniy Yatsenyuk, menuduh Rusia berusaha untuk memecah negaranya dengan memprovokasi wilayah timur agar memisahkan diri dari Kiev.
Namun, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dalam sebuah artikel di Guardian, membantah tuduhan itu.”Tuduhan yang tidak berdasar,” kata Lavrov.
Kementerian Luar Negeri Rusia, mengatakan Pemerintah Rusia tengah mengamati dengan seksama terkait apa yang terjadi di Ukraina timur, khususnya di Donetsk, Luhansk dan Kharkiv.
Selain menepis tudingan sebagai dalang kekacauan di Ukraina timur, Rusia menegaskan kembali desakan agar Ukraina menciptakan pemerintah federal dengan memberikan kekuasaan yang lebih luas untuk setiap provinsinya.
”Berhenti menunjuk ke Rusia, dan (berhenti) menyalahkan itu untuk semua masalah dari Ukraina hari ini,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, seperti dikutip BBC, semalam (7/4/2014).
Sementara itu, Presiden interim Ukraina, Oleksandr Turchynov, mengabaikan bantahan Rusia. Dia tetap meyakini bahwa Rusia sebagai dalang untuk memecah belah wilayah Ukraina.
”Itu adalah gelombang kedua dari operasi Rusia untuk mengacaukan Ukraina, menggulingkan pemerintah dan mengganggu pemilu yang direncanakan,” ucap Turchynov.
(mas)