Obama desak Abbas akhiri kebuntuan perundingan damai
Selasa, 18 Maret 2014 - 04:19 WIB
Obama desak Abbas akhiri kebuntuan perundingan damai
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama,mendesak Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk membantu memecahkan kebuntuan dalam pembicaraan perdamaian Palestina-Israel yang ditengahi AS.
Menurut Obama, pemimpin dari kedua belah pihak harus mengambil risiko politik sebelum tenggat waktu perundingan damai berakhir pada April mendatang. Hal ini diutarakan Obama saat menjamu Abbas di Gedung Putih, Senin (17/3/2014).
"Ini sangat sulit. Kami harus mengambil beberapa keputusan politik dan risiko jika kita bisa bergerak ke depan. Dan, saya berharap kita dapat terus melihat kemajuan dalam beberapa hari dan minggu ini,” kata Obama.
"Semua orang memahami garis besar kesepakatan damai, melibatkan kompromi teritorial pada kedua
sisi berdasarkan kesepakatan 1967, yang akan memastikan keamanan Israel, tetapi juga akan memastikan bahwa Palestina memiliki negara berdaulat," kata Obama.
Seperti dilaporkan Reuters, Abbas mengakui, waktu negosiasi di Timur Tengah sudah hampir habis. Abbas juga mendesak Israel menepati janji untuk membebaskan sejumlah tahanan Palestina pada Maret ini.
Salah satu batu sandungan utama dalam perundingan damai ini adalah permintaan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang meminta Abbas secara eksplisit mengakui Israel sebagai negara Yahudi.
Permintaan itu dengan tegas ditolak oleh Abbas. Menurut Abbas, sebelumnya Palestina telah mengakui Israel sebagai sebuah negara, namun tidak akan mengakui sebagai negara yahudi.
Menurut Obama, pemimpin dari kedua belah pihak harus mengambil risiko politik sebelum tenggat waktu perundingan damai berakhir pada April mendatang. Hal ini diutarakan Obama saat menjamu Abbas di Gedung Putih, Senin (17/3/2014).
"Ini sangat sulit. Kami harus mengambil beberapa keputusan politik dan risiko jika kita bisa bergerak ke depan. Dan, saya berharap kita dapat terus melihat kemajuan dalam beberapa hari dan minggu ini,” kata Obama.
"Semua orang memahami garis besar kesepakatan damai, melibatkan kompromi teritorial pada kedua
sisi berdasarkan kesepakatan 1967, yang akan memastikan keamanan Israel, tetapi juga akan memastikan bahwa Palestina memiliki negara berdaulat," kata Obama.
Seperti dilaporkan Reuters, Abbas mengakui, waktu negosiasi di Timur Tengah sudah hampir habis. Abbas juga mendesak Israel menepati janji untuk membebaskan sejumlah tahanan Palestina pada Maret ini.
Salah satu batu sandungan utama dalam perundingan damai ini adalah permintaan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang meminta Abbas secara eksplisit mengakui Israel sebagai negara Yahudi.
Permintaan itu dengan tegas ditolak oleh Abbas. Menurut Abbas, sebelumnya Palestina telah mengakui Israel sebagai sebuah negara, namun tidak akan mengakui sebagai negara yahudi.
(esn)