Lavrov tegaskan pada Kerry, referendum Crimea sah
Minggu, 16 Maret 2014 - 15:45 WIB
Lavrov tegaskan pada Kerry, referendum Crimea sah
A
A
A
Sindonews.com – Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov menegaskan kepada Menlu Amerika Serika (AS) John Kerry, bahwa referendum yang dilaksakan di Crimea adalah sah.
Lavrov berbicara dengan Kerry melaui sambungan telepon dan mengatakan kepada, Kerry bahwa referendum yang dilaksanakandi Crimea sudah sesuai dengan hukum internasional. Pembicaraan ini adalah kelanjutan dari perbincangan yang sebelumnya dilakukan di London Jumat lalu.
"Sergei Lavrov menegaskan, referendum Crimea sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional dan sesuai dengan piagam PBB dan hasilnya harus menjadi titik awal dalam menentukan masa depan semenanjung Crimea," ungkap Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.
"Menteri juga menaruh perhatian pada pihak berwenang Kiev saat ini untuk mengekang kekerasan olehkelompok ultra-nasionalis dan radikal yang meneror warga Crimea yang mayoritas berbahasa Rusia, rekan-rekan kita." Kementerian tersebut menambahkan seperti dilansir Reuters, Minggu (16/3/2014).
Sekitar 1.200 tempat pemunguran suara dibuka di Crimea, Ukraina, Minggu. Referendum ini digelar untuk memutuskan apakah republik otonom ini akan melepaskan diri dari Ukraina dan bergabung bersama Rusia, atau tetap bersama Ukraina.
Lavrov berbicara dengan Kerry melaui sambungan telepon dan mengatakan kepada, Kerry bahwa referendum yang dilaksanakandi Crimea sudah sesuai dengan hukum internasional. Pembicaraan ini adalah kelanjutan dari perbincangan yang sebelumnya dilakukan di London Jumat lalu.
"Sergei Lavrov menegaskan, referendum Crimea sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional dan sesuai dengan piagam PBB dan hasilnya harus menjadi titik awal dalam menentukan masa depan semenanjung Crimea," ungkap Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.
"Menteri juga menaruh perhatian pada pihak berwenang Kiev saat ini untuk mengekang kekerasan olehkelompok ultra-nasionalis dan radikal yang meneror warga Crimea yang mayoritas berbahasa Rusia, rekan-rekan kita." Kementerian tersebut menambahkan seperti dilansir Reuters, Minggu (16/3/2014).
Sekitar 1.200 tempat pemunguran suara dibuka di Crimea, Ukraina, Minggu. Referendum ini digelar untuk memutuskan apakah republik otonom ini akan melepaskan diri dari Ukraina dan bergabung bersama Rusia, atau tetap bersama Ukraina.
(esn)