Jong-un ingin lebih kejam dari ayahnya
Selasa, 14 Januari 2014 - 13:29 WIB
Jong-un ingin lebih kejam dari ayahnya
A
A
A
Sindonews.com – Para pembelot Korea Utara (Korut) yang berada di Korea Selatan (Korsel) merilis laporan yang disebut sebagai “kisah nyata” tentang apa yang terjadi di Korut.
Laporan itu, sekaligus untuk menepis klaim mantan bintang basket AS, Denis Roadman, yang menyebut Korut tidak seseram seperti yang diberitakan media.
Laporan itu, dimulai dengan kondisi infrastruktur di Korut yang diklaim krisis listrik. Para wisatawan juga dikawal mata-mata pemerintah. Bahkan, dalam laporan itu, disebutkan pena menjadi barang mewah di negara itu.
Adalah Tim Peters, pendiri kelompok bantuan Helping Hands Korea, salah satu pihak yang merilis laporan yang diklaim sebagai kondisi nyata di Korut. ”Wanita Korut tak berdaya. Mereka hidup tanpa dokumen. Sebagian menjadi korban pedagangangan seks, dijual untuk pengantin laki-laki di China,” kata Peters, seperti dikutip news.com.au, Selasa (14/1/2014).
Peters juga mengomentari sosok pemimpin Korut, Kim Jong-un. Akrabnya, Jong-un dengan mantan bintang basket Roadman, yang kemudian dikenal sebagai “diplomasi basket”, ia anggap untuk menutupi karakter Jong-un.
”Kim Jong-un telah menjelaskan, jika ayahnya kejam, dia akan lebih kejam lagi,” kata Peters, yang menyebut ayah Jong-un, Kim Jong II, adalah sosok yang sangat keras.
Laporan yang diklaim menggambarkan kehidupan nyata di Korut, juga dirilis situs NKNews.org. Situs itu, merilis laporan dari empat pembelot yang menjawab pertanyaan dari pembaca di seluruh dunia.
”Orang-orang tidak memiliki banyak hiburan pribadi di bawah sistem totaliter di Korut,” kata Mina Yoon , 20, salah satu warga Korut yang membelot ke Korsel tahun 2010.”Tidak banyak yang bisa dinikmati saat mengisi waktu luang,” lanjut dia.
Pembelot lain, Ji-Min, menggambarkan hukuman mati untuk orang yang dianggap melakukan kejahatan. Menurutnya, di Korut, tidak mungkin orang bisa menonton film action yang dibintangi Steven Seagal.
Laporan itu, sekaligus untuk menepis klaim mantan bintang basket AS, Denis Roadman, yang menyebut Korut tidak seseram seperti yang diberitakan media.
Laporan itu, dimulai dengan kondisi infrastruktur di Korut yang diklaim krisis listrik. Para wisatawan juga dikawal mata-mata pemerintah. Bahkan, dalam laporan itu, disebutkan pena menjadi barang mewah di negara itu.
Adalah Tim Peters, pendiri kelompok bantuan Helping Hands Korea, salah satu pihak yang merilis laporan yang diklaim sebagai kondisi nyata di Korut. ”Wanita Korut tak berdaya. Mereka hidup tanpa dokumen. Sebagian menjadi korban pedagangangan seks, dijual untuk pengantin laki-laki di China,” kata Peters, seperti dikutip news.com.au, Selasa (14/1/2014).
Peters juga mengomentari sosok pemimpin Korut, Kim Jong-un. Akrabnya, Jong-un dengan mantan bintang basket Roadman, yang kemudian dikenal sebagai “diplomasi basket”, ia anggap untuk menutupi karakter Jong-un.
”Kim Jong-un telah menjelaskan, jika ayahnya kejam, dia akan lebih kejam lagi,” kata Peters, yang menyebut ayah Jong-un, Kim Jong II, adalah sosok yang sangat keras.
Laporan yang diklaim menggambarkan kehidupan nyata di Korut, juga dirilis situs NKNews.org. Situs itu, merilis laporan dari empat pembelot yang menjawab pertanyaan dari pembaca di seluruh dunia.
”Orang-orang tidak memiliki banyak hiburan pribadi di bawah sistem totaliter di Korut,” kata Mina Yoon , 20, salah satu warga Korut yang membelot ke Korsel tahun 2010.”Tidak banyak yang bisa dinikmati saat mengisi waktu luang,” lanjut dia.
Pembelot lain, Ji-Min, menggambarkan hukuman mati untuk orang yang dianggap melakukan kejahatan. Menurutnya, di Korut, tidak mungkin orang bisa menonton film action yang dibintangi Steven Seagal.
(mas)