Mesir akan perluas kerjasama dengan Rusia
Minggu, 10 November 2013 - 04:41 WIB
Mesir akan perluas kerjasama dengan Rusia
A
A
A
Sindonews.com – Mesir akan memperluas kerjasama dengan Rusia, menyusul pertikaian diplomatik dengan sekutu lama mereka, Amerika Serikat (AS), sebagai imbas penggulingan Presiden Mohamed Morsi. Demikian dinyatakan Menteri Luar Negeri Mesir, Nabil Fahmy, Sabtu (9/11/2013).
Pernyataan ini dilontarkan Fahmy dalam sebuah wawancara dengan AFP, jelang kunjungan delegasi Rusia untuk membahas penjualan senjata dan hubungan politik. Fahmy mengatakan, hubungan yang tegang dengan Washington, yang telah menangguhkan beberapa bantuan militer besar-besaran ke Kairo, telah diperlunak dengan kunjungan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry ke Mesir pada pekan lalu.
“Tapi, Mesir akan mengambil taktik lebih "independen" dan memperluas pilihan. Kemerdekaan adalah memiliki pilihan. Jadi, tujuan dari kebijakan asing ini adalah untuk menyediakan Mesir pilihan, lebih banyak pilihan,” jelas Fahmy. "Saya melihat ini sebagai awal dari sebuah fase baru," lanjutnya.
Menurutnya, kunjungan Kerry ke Mesir menumbuhkan sentiment yang lebih baik. Kunjungan itu dilakukan Kerry, satu hari sebelum Morsi diadili dengan tuduhan menghasut pembunuhan demonstran.
"Namun, tidak berarti semuanya telah diselesaikan. Ini tidak berarti tidak akan ada cegukan dalam hubungan di masa depan," kata Fahmi yang berbicara di kantornya, di tepi Sungai Nil.
Di masa lalu, Mesir memiliki hubungan erat dengan Rusia, sampai beberapa tahun sebelum Presiden Anwar Sadat membuat perdamaian dengan Israel pada 1979.
Pernyataan ini dilontarkan Fahmy dalam sebuah wawancara dengan AFP, jelang kunjungan delegasi Rusia untuk membahas penjualan senjata dan hubungan politik. Fahmy mengatakan, hubungan yang tegang dengan Washington, yang telah menangguhkan beberapa bantuan militer besar-besaran ke Kairo, telah diperlunak dengan kunjungan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry ke Mesir pada pekan lalu.
“Tapi, Mesir akan mengambil taktik lebih "independen" dan memperluas pilihan. Kemerdekaan adalah memiliki pilihan. Jadi, tujuan dari kebijakan asing ini adalah untuk menyediakan Mesir pilihan, lebih banyak pilihan,” jelas Fahmy. "Saya melihat ini sebagai awal dari sebuah fase baru," lanjutnya.
Menurutnya, kunjungan Kerry ke Mesir menumbuhkan sentiment yang lebih baik. Kunjungan itu dilakukan Kerry, satu hari sebelum Morsi diadili dengan tuduhan menghasut pembunuhan demonstran.
"Namun, tidak berarti semuanya telah diselesaikan. Ini tidak berarti tidak akan ada cegukan dalam hubungan di masa depan," kata Fahmi yang berbicara di kantornya, di tepi Sungai Nil.
Di masa lalu, Mesir memiliki hubungan erat dengan Rusia, sampai beberapa tahun sebelum Presiden Anwar Sadat membuat perdamaian dengan Israel pada 1979.
(esn)