Suriah sambut baik proposal transfer senjata kimia Rusia
Selasa, 10 September 2013 - 19:08 WIB
Suriah sambut baik proposal transfer senjata kimia Rusia
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Suriah menyambut baik proposal Pemerintah Rusia untuk menyerahkan kendali senjata kimia kepada pemantau internasional. Demikian isi pernyataan Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Mualem, saat berada di Moscow, Rusia, Senin (9/9/2013).
"Suriah menyambut baik inisiatif Rusia," ungkap Mualem. "Kami juga menyambut kebijaksanaan Pemerintah Rusia, yang sedang berusaha mencegah agresi Amerika Serikat (AS) terhadap rakyat kami," lanjut Mualem
Keputusan itu merupakan upaya untuk membuktikan bahwa Suriah tidak memiliki rencana menggunakan senjata tersebut, sekaligus menurunkan tingginya keinginan AS untuk melancarkan serangan militer ke Suriah. Ini juga merupakan jawaban atas permintaan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov agar Suriah melepaskan kontrol dari senjata kimia kepada pemantau internasional guna mencegah serangan AS.
"Jika pembentukan kontrol internasional atas senjata kimia di Suriah dapat menghindari terjadinya serangan, maka kami segera bekerja sama dengan Damaskus," ungkap Lavrov kepada mintranya. "Kami menyerukan kepada Pemimpin Suriah agar tidak hanya menyepakati isi pernyataan penyimpanan senjata kimia di bawah pengawasan internasional, tetapi juga menghancurkan senjata itu," lanjut Lavrov.
Di hari yang sama, Presiden AS, Barack Obama dalam wawancara dengan ABC News mengatakan, ia akan mempertimbangkan untuk menahan rencana serangan militer terhadap Suriah. Syaratnya, jika negara pimpinan Presiden Bashar al-Assad itu bersedia menyerahkan senjata kimia di bawah pengawasan internasional.
Obama berpendapat, rencana serangan militer AS hanya untuk menghukum rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad atas penggunaan senjata kimia. Menurutnya, serangan militer AS jika disetujui hanya akan berlangsung singkat, dengan tujuan mencegah agar senjata kimia itu tidak digunakan lagi.
Saat ditanya apakah AS akan menghentikan rencana menyerang Suriah, jika Assad menyerahkan senjata kimia dengan pengawasan, Obama menjawab, "Tentu saja, jika itu yang sebenarnya terjadi.”
"Suriah menyambut baik inisiatif Rusia," ungkap Mualem. "Kami juga menyambut kebijaksanaan Pemerintah Rusia, yang sedang berusaha mencegah agresi Amerika Serikat (AS) terhadap rakyat kami," lanjut Mualem
Keputusan itu merupakan upaya untuk membuktikan bahwa Suriah tidak memiliki rencana menggunakan senjata tersebut, sekaligus menurunkan tingginya keinginan AS untuk melancarkan serangan militer ke Suriah. Ini juga merupakan jawaban atas permintaan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov agar Suriah melepaskan kontrol dari senjata kimia kepada pemantau internasional guna mencegah serangan AS.
"Jika pembentukan kontrol internasional atas senjata kimia di Suriah dapat menghindari terjadinya serangan, maka kami segera bekerja sama dengan Damaskus," ungkap Lavrov kepada mintranya. "Kami menyerukan kepada Pemimpin Suriah agar tidak hanya menyepakati isi pernyataan penyimpanan senjata kimia di bawah pengawasan internasional, tetapi juga menghancurkan senjata itu," lanjut Lavrov.
Di hari yang sama, Presiden AS, Barack Obama dalam wawancara dengan ABC News mengatakan, ia akan mempertimbangkan untuk menahan rencana serangan militer terhadap Suriah. Syaratnya, jika negara pimpinan Presiden Bashar al-Assad itu bersedia menyerahkan senjata kimia di bawah pengawasan internasional.
Obama berpendapat, rencana serangan militer AS hanya untuk menghukum rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad atas penggunaan senjata kimia. Menurutnya, serangan militer AS jika disetujui hanya akan berlangsung singkat, dengan tujuan mencegah agar senjata kimia itu tidak digunakan lagi.
Saat ditanya apakah AS akan menghentikan rencana menyerang Suriah, jika Assad menyerahkan senjata kimia dengan pengawasan, Obama menjawab, "Tentu saja, jika itu yang sebenarnya terjadi.”
(esn)