Irak tak mau jadi basis serangan militer ke Suriah
Senin, 09 September 2013 - 14:23 WIB
Irak tak mau jadi basis serangan militer ke Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) Irak, Hoshyar Zebari, menegaskan perlunya solusi politik untuk krisis Suriah dan menekankan bahwa Irak tidak akan meluncurkan serangan ke Suriah.
"Irak tidak akan menjadi pangkalan untuk serangan terhadap Suriah dan Irak terus menekankan bahwa solusi politik adalah satu-satunya cara menyelesaikan krisis Suriah," ungkap Zebari dalam sebuah konferensi pers bersama mitranya Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, di Baghdad, Minggu (8/9/2013).
"Hanya warga Suriah lah yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Jika Suriah mendapat serangan militer, maka solusi politik akan tertunda," imbuh Zebari.
Baik Zebari maupun Zarif sama-sama menegaskan, bahwa konferensi Jenewa II diperuntukan bagi perdamaian Suriah dan misi dari semua pihak yang terlibat dalam konferensi adalah mempersiapkan landasan untuk menyelesaian krisis Suriah.
Di hari yang sama, penolakan atas intervensi militer ke Suriah juga datang dari Ketua Parlemen Irak, Osama Nujaifi. "Kami telah mencapai kesepakatan dengan semua pemimpin politik di Irak untuk menentang setiap serangan militer terhadap Suriah," kata Nujaifi. "Tindakan militer terhadap Suriah sangat bebahaya dan akan mendatangkan dampak negatif bagi kawasan Timur Tengah. Pihak asing tidak boleh memutuskan masa depan politik di Suriah," tegas Nujaifi.
Seruan untuk melancarkan aksi militer terhadap Suriah meningkat setelah pasukan oposisi yang didukung asing menuduh Pemerintah Suriah meluncurkan serangan kimia di pinggiran Ibu Kota Damaskus pada 21 Agustus lalu. Namun, tudingan itu dibantah oleh rezim Assad. "Serangan yang diduga menggunakan senjata kimia dilakukan oleh anggota militan itu sendiri untuk menyalahkan pemerintah," sebut pernyataan Pemerintah Suriah.
"Irak tidak akan menjadi pangkalan untuk serangan terhadap Suriah dan Irak terus menekankan bahwa solusi politik adalah satu-satunya cara menyelesaikan krisis Suriah," ungkap Zebari dalam sebuah konferensi pers bersama mitranya Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, di Baghdad, Minggu (8/9/2013).
"Hanya warga Suriah lah yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Jika Suriah mendapat serangan militer, maka solusi politik akan tertunda," imbuh Zebari.
Baik Zebari maupun Zarif sama-sama menegaskan, bahwa konferensi Jenewa II diperuntukan bagi perdamaian Suriah dan misi dari semua pihak yang terlibat dalam konferensi adalah mempersiapkan landasan untuk menyelesaian krisis Suriah.
Di hari yang sama, penolakan atas intervensi militer ke Suriah juga datang dari Ketua Parlemen Irak, Osama Nujaifi. "Kami telah mencapai kesepakatan dengan semua pemimpin politik di Irak untuk menentang setiap serangan militer terhadap Suriah," kata Nujaifi. "Tindakan militer terhadap Suriah sangat bebahaya dan akan mendatangkan dampak negatif bagi kawasan Timur Tengah. Pihak asing tidak boleh memutuskan masa depan politik di Suriah," tegas Nujaifi.
Seruan untuk melancarkan aksi militer terhadap Suriah meningkat setelah pasukan oposisi yang didukung asing menuduh Pemerintah Suriah meluncurkan serangan kimia di pinggiran Ibu Kota Damaskus pada 21 Agustus lalu. Namun, tudingan itu dibantah oleh rezim Assad. "Serangan yang diduga menggunakan senjata kimia dilakukan oleh anggota militan itu sendiri untuk menyalahkan pemerintah," sebut pernyataan Pemerintah Suriah.
(esn)